Minggu, 25 Oktober 2020

BPJS Kesehatan Akan Defisit Rp 9 Triliun, Bagaimana Menutupnya?

BPJS Kesehatan Akan Defisit Rp 9 Triliun, Bagaimana Menutupnya?

BPJS terus alami defisit akibat nilai klaim jauh lebih besar daripada iurannya. (*)

Jakarta, Swamedium.com – Kabar Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan nyaris bangkrut bila tidak disubsidi oleh pemerintah ini bukan isapan jempol. Setiap tahunnya, BPJS Kesehatan masih defisit triliunan rupiah, bahkan nilai defisit tahun ini diperkirakan mencapai Rp 9 triliun.

Seperti diketahui, masalah ketimpangan pengeluaran dan penerimaan dana Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) masih terus terjadi. Selisih antara masuknya iuran dengan besarnya klaim pelayanan kesehatan yang harus dikeluarkan masih tergolong besar.

Direktur Kepatuhan Hukum dan Hubungan antar Lembaga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Bayu Wahyudi memperkirakan pihaknya masih akan mengalami defisit (missmacth) sebesar Rp 9 triliun tahun ini.

“Dari perhitungan, prediksinya Rp 9 triliun (missmatch). Missmatch itu tidak sesuai antara pengeluaran dan pemasukan didapat dari iuran,” ujar Bayu saat ditemui di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (25/9) yang dirilis merdeka.com.

Bayu mengatakan, defisit terjadi karena banyaknya pembayaran iuran tidak dibayarkan sesuai dengan nominal yang ditetapkan. Contohnya, untuk penerima bantuan iuran (PBI) seharusnya membayar sebesar Rp 36.000, namun hanya membayar Rp 23.000, sudah selisih Rp 13.000.

“Jadi itu tidak sesuai. Jadi gini ilustrasinya kalau anda disuruh beli beras, harga beras itu Rp 10.000 tapi dikasih duit cuma Rp 8.000 sampai Rp 7.000. Kekurangan kan, terpaksa ngutang dulu tunggu iuran masuk,” jelasnya.

Selain selisih penerimaan dan pengeluaran yang cukup besar, defisit BPJS kesehatan juga dipengaruhi oleh banyaknya pasien yang mengalami penyakit katastropik yang harus ditangani. Setidaknya, ada 30 persen penyakit katastropik harus dibiayai menggunakan BPJS.

“Penyakit katastropik yang dibayar BPJS itu hampir 30 persen, jadi menyedot uang itu. Penyakit katastropik termasuk hypertensi, jantung, kanker, leukimia, gagal ginjal, stroke dan sebagainya,” jelasnya.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.