Minggu, 18 Oktober 2020

Hersubeno Arief: ‘Power Game’ Jenderal Gatot

Hersubeno Arief: ‘Power Game’ Jenderal Gatot

Jenderal Gatot dan heboh kabar pembelian 5000 senpi. (*)

Oleh : Hersubeno Arief

Jakarta, Swamedium.com – Heboh instruksi nonton bareng film G30S/PKI dan adanya informasi “penyelundupan” 5.000 senjata tempur yang disampaikan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo setidaknya mengkonfirmasi dua hal.

Pertama, adanya power game di level elit, khususnya di lingkar dekat Presiden Jokowi.
Kedua, penegasan adanya pembelahan besar dalam masyarakat.

Power game atau permainan kekuasaan dikaitkan dengan akan berakhirnya masa jabatan Gatot dan Pilpres 2019. Gatot lahir di Tegal 13 Maret 1960, berarti secara normal enam bulan lagi akan pensiun, kecuali diperpanjang masa jabatannya oleh presiden. Dengan berbagai manuvernya, Gatot kini dipandang menjadi kandidat potensial untuk mendampingi Jokowi sebagai cawapres atau bahkan malah bisa menjadi pesaing sebagai capres.

Sebagai cawapres, Gatot dinilai sebagai kandidat yang paling ideal untuk mendampingi Jokowi karena latar belakang militernya dan “kedekatannya” dengan umat Islam. Jokowi butuh figur model Gatot untuk merebut kembali hati umat Islam, karena faktor ini menjadi titik lemah Jokowi.

Ketika terjadi hiruk pikuk Pilkada DKI, sikap Gatot jelas sangat bertolak belakang dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Polri menyebut berbagai Aksi Bela Islam bertujuan makar, Gatot dengan tegas menolaknya. Saat diwawancarai sebuah stasiun TV, Gatot bahkan mengaku sangat tersinggung, kalau umat Islam yang nota bene komponen utama pendiri NKRI disebut mau makar.

Pada putaran kedua Pilkada DKI, TNI mengerahkan pasukan untuk ikut mengamankan Tempat Pemungutan Suara (TPS). Hadirnya prajurit TNI di TPS ini dinilai menjadi salah satu faktor yang ikut membantu kemenangan pasangan Anies-Sandi. Mereka berhasil menetralisir kemungkinan kecurangan yang akan dilakukan kubu Ahok-Djarot.

Gatot juga dinilai lebih dekat dan punya empati terhadap penderitaan rakyat kecil akibat ketimpangan ekonomi yang kian dalam. Ketika berlangsung Rapimnas Golkar di Balikpapan, Kaltim (22/5) dia membaca sebuah puisi milik Denny JA yang menyoroti ketimpangan antara si kaya dan mayoritas rakyat kecil yang menjadi si miskin.

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.