Minggu, 25 Oktober 2020

Beredar Surat Terbuka ke Wiranto soal Klarifikasi Senjata Ilegal

Beredar Surat Terbuka ke Wiranto soal Klarifikasi Senjata Ilegal

Foto: Dr Rahman Sabon Nama. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Sebuah pesan berantai (broadcast) viral di aplikasi percakapan Whatsapp sejak Senin (25/9) kemarin. Disebutkan, surat itu ditulis oleh Dr Rahman Sabon Nama, seorang cendekiawan muslim.

Surat terbuka yang ditujukan ke Menko Polhukam Wiranto, tertanggal 25 September 2019 itu menyebutkan bahwa apa yang disampaikan Wiranto melalui press release maupun berbicara langsung dengan media terkait pengadaan 5000 senjata hanyalah sebuah pengalihan isu untuk mengelabui rakyat.

“Alasannya hanya mau beli pistol, padahal mereka BIN dan Polri pesan 5000 pucuk senjata / senjata laras pangjang serbu anti tank dan senjata kaliber besar / senapan BB sniper caliber 0,50 inch / yang bisa di gunakan untuk anti tank dan anti helikopter tempur dgn peluru khusus. Untuk itu perlu segera dilaporkan pada presiden Jokowi dan untuk menggulung elit ini hendaknya dilakukan penyelidikan khusus,” demikian bunyi surat itu.

Berikutnya, Rahman juga menuliskan bahwa apa yang disampaikan Wiranto terkait standar senjata yang dibeli oleh kepolisian menyalahi aturan yang ada.

“Untuk meluruskan pernyataan Bapak Menkoolhukam maka perlu kami disampekan bahwa di negara mana pun,di dunia ini polisi hanya boleh menggunakan senapan sniper 7,62 mm, bukan 12,5 mm yang bisa untuk merontokkan helicopter dan sekaligus senjata anti tank,” tulis Rahma dalam surat itu.

“Dari informasi yang kami trima bahwa KaBIN telah perintahkan Mabes polri mengunjungi pabrik senjata di China? untuk memesan 5000-20.000 senjata anti material rifle : zhijiang M 99 atau AMR 2 atau JQ rifle, atau IR 2 A atau JS 12,7 made in China,” imbuh dia.

“Pindad tidak ada stock untuk caliber besar karena memang kaliber besar itu hanya untuk kebutuhan TNI, bukan untuk Polisi apalagi untuk BIN,” imbuh Rahmnan lagi.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.