Minggu, 25 Oktober 2020

Kejar Pendidikan Vokasi, Pemerintah Siapkan Reformasi Perguruan Tinggi

Kejar Pendidikan Vokasi, Pemerintah Siapkan Reformasi Perguruan Tinggi

Foto: Caption Direktur Pengembangan Kelembagaan Perguruan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Ir Ridwan M,Sc. (Ariesmen/swamedium)

Bandung, Swamedium.Com — Untuk mempersiapkan mahasiswa mandiri siap membuka lapangan kerja baru, bukan mencari kerja, pemerintah fokus pada perguruan tinggi yang mengutamakan pendidikan vokasi. Selain itu, juga akan dilakukan pengurangan perguruan tinggi.

“Pemerintah ke depan ingin mengembangkan lebih banyak pendidikan vokasi,” kata Direktur Pengembangan Kelembagaan Perguruan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Ir Ridwan M,Sc usai peresmian Binus @Bandung di Paskal Hypermart Jl Pasirkaliki, Bandung, Rabu (27/9) kemarin.

Ridwan menjelaskan, Eropa sudah sejak 20 tahun lalu menerapkan pendidikan vokasi, pendidikan tinggi yang menunjang ada penguasaan keahlian terapan tertentu, meliputi program penddiikan Diploma (diploma 1, diploma 2, diploma 3 dan diploma 4) yang setara dengan program pendidikan akademik strata 1.

“Lulusan pendidikan vokasi akan mendapatkan gelar vokasi,” terang Ridwan.

Pendidikan vokasi akan diterapkan di Indonesia karena sudah terbukti mampu menopang ekonomi, jadi jangan heran kalau di Eropa industri mereka tumbuh pesat.

“Di Indonesia pendidikan vokasi belum sampai 10 persen, dibanding pendidikan akademis,” jelasnya.

Dengan menjalani pendidikan vokasi, mahasiswa yang telah selesai kuliah tidak hanya terima ijazah, dia juga mampu bekerja sesuai bidang pendidikan yang dipilihnya.

Pendidikan vokasi, terang Ridwan, boleh berbentuk politeknik, boleh juga institut teknologi tetapi program studi (prodi) nya sains, teknologi, dan engineering. Sebab prodi-prodi itulah yang saat ini berperan langsung pada pembangunan ekonomi nasional.

“Ke depan, prodi hukum disetop dulu. Kita moratorium sementara, sampai satu saat kita evaluasi kalau masih diperlukan akan kita buka kembali,” terangnya.

Selain itu, Ridwan juga mengatakan, pemerintah ke depan juga akan melakukan pengurangan perguruan tinggi di Indonesia, khususnya perguruan tinggi swasta.

“Agar tidak timbul kegaduhan perguruan tinggi itu untuk bergabung jadi satu, jumlahnya berkurang tetapi bentuk kelembagaannya lebih sehat, keuangannya lebih kuat dan sumberdayanya lebih baik dan yang paling penting mahasiswanya mandiri, siap bekerja atau membuka usaha sendiri,” katanya.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.