Sabtu, 24 Oktober 2020

Hersubeno Arief : Urusan 5.000 Senjata Sudah Aman Jenderal?

Hersubeno Arief :  Urusan 5.000 Senjata Sudah Aman Jenderal?

Urusan 5.000 pucuk senjata ilegal mereda. Ada apa dengan jenderal Gatot? (*)

Oleh: Hersubeno Arief

Jakarta, Swamedium.com – Heboh dan hiruk pikuk di seputar isu “penyelundupan” 5.000 senjata yang dilontarkan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo untuk sementara sudah mereda. Seperti kata Presiden Jokowi masalahnya sudah selesai, case closed.

Tak ada yang kehilangan muka. Itu hanya masalah “miss komunikasi.” Begitu juga dengan heboh seputar nonton bareng (Nobar) Film G30S/PKI, bersamaan dengan berlalunya bulan September, isunya secara perlahan juga akan menghilang.

Pada dua isu tersebut banyak pengamat, maupun pegiat dunia maya hanya terfokus pada Jenderal Gatot.

Kalangan yang setuju dan mendukung Gatot, mengelu-elukan, bahkan mendorongnya untuk berkompetisi pada Pilpres 2019 berkompetisi dengan Jokowi. Sementara yang tidak sepakat, mengecam dan mendorong Presiden Jokowi untuk segera memecatnya. Bahkan ada yang memberi julukan sebagai Panglima TNI “terburuk” sepanjang era reformasi.

Banyak yang luput atau mungkin abai bahwa dalam kedua peristiwa tersebut Gatot sesungguhnya bukan aktor utama. Dia hanyalah pembawa pesan.

Jangan lupa Gatot adalah prajurit TNI yang didik loyal kepada pimpinan, dalam hal ini presiden sebagai panglima tertinggi TNI.

Prinsip utama seorang prajurit TNI itu secara tegas pernah dikemukakan Gatot saat membuka Rapat Pimpinan TNI Tahun Anggaran 2016 bahwa loyalitas TNI ‘Tegak Lurus’ pada presiden.

“TNI bisa hancur jika ikut dalam politik praktis. Ini harus kita jaga agar TNI tidak ikut politik, kecuali politik negara dengan loyalitas tegak lurus pada Presiden Republik Indonesia dengan panglima tertinggi,” ujarnya di Aula Gedung Gatot Subroto Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (16/12).

Dengan prinsip semacam itu bisa diartikan, bahwa apapun yang dilakukan oleh Gatot adalah bentuk sebuah loyalitas yang tegak lurus kepada presiden. Nobar dan isu 5.000 pucuk senjata untuk instansi lain di luar TNI-Polri harusnya bukan dilihat sebagai bentuk perlawanan Gatot terhadap Presiden Jokowi, tapi malah sebaliknya sebagai langkah “pengamanan” untuk Jokowi sebagai Panglima Tertinggi TNI.

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.