Selasa, 20 Oktober 2020

Hersubeno Arief: Lho Kok Presiden Jokowi Nobar juga?

Hersubeno Arief: Lho Kok Presiden Jokowi Nobar juga?

Jokowi Nobar Film G30S PKI, Jenderal Gatot Nobar Wayang Kulit. (*/pojok)

Oleh : Hersubeno Arief

Jakarta, Swamedium.com Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo Jumat (29/9) malam menggelar nonton bareng (Nobar) wayang di museum Fatahilah, Jakarta. Pada saat bersamaan Presiden Jokowi juga Nobar film G30S/PKI di Markas Korem Surya Kencana, Bogor.

Sepintas dua acara yang “kebetulan” berlangsung bersamaan itu hanya peristiwa budaya biasa. Namun bagi yang paham politik dan bahasa simbol, kedua momen tersebut adalah sebuah peristiwa politik yang tidak biasa. Apalagi kemudian Gatot segera bergabung dengan Presiden dan nonton bersama warga sampai dinihari.

Nobar wayang bersama para Kepala Staf Angkatan AD, AL dan AU digelar untuk menyambut HUT TNI ke-72. Acara tersebut sebenarnya biasa saja. Yang menarik lakon (cerita) yang dipilih, yakni “Parikesit Jumeneng Nata.”

Dengan konstelasi politik jelang Pilpres 2019 yang tensinya mulai memanas dan kondisi masyarakat Indonesia terkotak-kotak, terpolarisasi dalam dua kubu yang berseberangan pasca pilkada DKI, pilihan lakon “Parikesit Jumeneng Nata” menjadi sangat politis, penuh dengan tafsir dan makna.

Lakon “Parikesit Jumeneng Nata” atau Parikesit Menjadi Raja adalah sebuah episode tampilnya generasi ketiga keluarga Pandawa menjadi raja di negara Hastinapura, pasca perang Baratayudha.

Perang besar antara dua saudara yang mewakili pembela kebenaran (Pandawa) melawan pembela kejahatan (Kurawa) itu dimenangkan oleh Pandawa.

Parikesit adalah cucu dari Arjuna, salah satu kesatria Pandawa paling tampan. Bapaknya bernama Abimanyu tewas dalam perang Baratayudha.

Setelah keluarga Pandawa memutuskan meninggalkan dunia politik, berbagai intrik dan konspirasi politik dilakukan untuk menggagalkan Parikesit menjadi raja. Namun karena sudah menjadi takdirnya, Parikesit tetap menjadi raja.

Gatot punya tafsir sendiri soal lakon tersebut. Menurutnya pasca Baratayudha negara kacau balau. “Perang itu menyakitkan, menang atau kalah pasti rugi. Menata perlu waktu, tenaga, dan biaya. Maka utamakanlah persatuan,” ujarnya.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.