Minggu, 25 Oktober 2020

Dari Nobar Film G30S/PKI, Senjata Impor Hingga Generasi Milenial

Dari Nobar Film G30S/PKI, Senjata Impor Hingga Generasi Milenial

Foto: Mayjen TNI Purnawirawan Kivlan Zein menegaskan bahwa seminar yang diselenggarakan di Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta Pusat, berlatar belakang menghidupkan kembali PKI. (Lip6)

Jakarta, Swamedium.com — Perintah Panglima TNI Gatot nurmantyo untuk nobar film G30S PKI bukan tanpa sebab. Acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang ditayangkan TV One beberapa waktu lalu membawakan tema PKI; hantu atau nyata. Mantan Kepala Staf Kostrad ABRI Mayjen TNI Kivlan Zen menuturkan, PKI bukan lagi menjadi hantu tetapi nyata.

Kebangkitan mereka, kata Kivlan, diejawantahkan dalam bentuk seminar, simposium, diskusi, festival belok kiri, pernyataan jalan lurus bahwa mereka tidak bersalah seperti di Kendal serta menampilkan logo palu arit di beberapa daerah. Diantaranya di Sampang, Jember dan Payakumbuh. Hal itu disampaikan Kivlan Zen di area masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Sabtu (30/9).

“Puncaknya sekarang dengan simposium-simposium, mereka ingin TAP MPRS 25/1966 dicabut, maka mereka merasa tidak bersalah dan membangkitkan lagi Partai Komunis. Karena mereka akan membangkitkan Partai Komunis maka kita harus waspada,” tutur Kivlan.

Artinya, lanjut Kivlan, mereka membuat skenario agar negara minta maaf dan terbukti mereka tidak salah. Atas landasan itu, TAP MPRS dicabut dan PKI mendapat legal formal dengan target mengikuti pemilu. Namun, kata Kivlan, tidak menutup kemungkinan bila hal ini terjadi akan menimbulkan konflik horizontal.

“Mereka sudah mempersiapkan itu dari Kongres kedelapan di Banyuwangi dan Cianjur, Kongres kesembilan di Sukabumi, Kongres kesepuluh di Magelang, sudah terbentuk strukturnya, AD/ART, tinggal legalitasnya saja,” ungkap Kivlan Zen.

Sebab itu, kata alumni Akmil angkatan tahun 1971, film G30S PKI tidak ada kaitanya dengan politisasi orde baru. Justru mereka yang melakukan distorsi sejarah dengan diisukan Dewan Jenderal yang ingin meng-coup Presiden Soekarno. Padahal, terang Kivlan, Komunis saat itu sangat geram dengan Wanjakti (Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi) karena tidak setuju buruh tani dipersenjatai atau dikenal dengan angkatan kelima.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.