Minggu, 25 Oktober 2020

Korupsi dan Birokrasi Berbelit Dinilai Menjadi Faktor Pelemah Ekonomi Indonesia

Korupsi dan Birokrasi Berbelit Dinilai Menjadi Faktor Pelemah Ekonomi Indonesia

Foto: Sejumlah peserta membawa poster saat menggelar aksi Gerakan Sapu Koruptor e-KTP di area Car Free Day di kawasan MH Thamrin, Jakarta, 19 Maret 2017. Mereka menuntut agar kasus korupsi terkait pengadaan e-KTP segera dituntaskan. (tempo)

Bekasi, Swamedium.com — World Economy Forum (WEF) merilis hasil survei terkait daya saing ekonomi tahun 2017. Dalam rilisnya itu, Indonesia hanya menduduki peringkat ke-36. Kendati naik 5 tingkat dari posisi sebelumnya, WEF menyoroti lambannya pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat tingkat korupsi yang tinggi.

“Faktor yang paling bermasalah dalam berbisnis di Indonesia adalah tingkat korupsi yang tinggi mencapai 13.8 (persen),” tulis WEF dalam keterangan resminya, Senin (2/10).

WEF menjelaskan, persentase tersebut didapat dari hasil survei responden saat diminta untuk memilih lima faktor paling bermasalah dalam melakukan bisnis di Indonesia.

Penghambat kedua, menurut WEF, adalah terjadinya inefisiensi dalam birokrasi pemerintah alias kendala perizinan yang berbelit-belit dengan nilai 11.1 persen. Dinilai WEF, ppaya pemerintah dalam memangkas perizinan terkait usaha belum memberikan hasil positif.

Sedangkan faktor penghambat pertumbuhan ekonomi lainnya, didapat antara lain akses terhadap pembiayaan dengan nilai 9.2, pasokan infrastruktur yang tidak memadai 8.8, ketidakstabilan kebijakan 8.6, dan ketidakstabilan pemerintah 6.5.

Selain itu, juga terdapat penghambat lainnya seperti, banyaknya tarif pajak yang dibebankan kepada masyarakat dengan persentase 6.4.

Selanjutnya disusul oleh etika kerja yang buruk dalam angkatan kerja nasional 5.8. Begitupun peraturan pajak yang berbelit 5.2, inflasi 4.7, tenaga kerja berpendidikan tidak memadai 4.3, kejahatan dan pencurian 4.0, peraturan ketenagakerjaan terbatas 4.0, peraturan mata uang asing 3.3 dan faktor kapasitas yang tidak mencukupi untuk berinovasi 2.5.

“Selain faktor penghambat di atas, koreponden juga menilai Indonesia masih memiliki kesehatan masyarakat yang buruk dengan nilai 1.8,” papar WEF.

Meski begitu, Indonesia berada di peringkat 31 dan 32 dalam inovasi dan kecanggihan bisnis. Indonesia dinilai sebagai salah satu inovator teratas di antara negara berkembang.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.