Selasa, 15 Juni 2021

Sulam Alis dan Bibir, Bolehkah?

Sulam Alis dan Bibir, Bolehkah?

Foto : Ilustrasi. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Dalam dunia medis untuk kecantikan dan perawatan tubuh, muncul produk atau metode baru yang disebut sulam bibir dan sulam alis. Kalau dilihat dari cara kerjanya, sulam bibir ini mirip seperti tattoo, pertama bius dibius lokal, kemudian disulam dengan jarum kecil untuk menanamkan sejenis tinta dengan warna yang diinginkan agar bibir selalu tampak indah meski tanpa menggunakan lipstik.

Banner Iklan Swamedium

Sedang untuk sulam alis, mula-mula rambut alis dicukur habis, kemudian dibius lokal, selanjutnya disulam dengan menggunakan jarum khusus untuk menanamkan pewarna khusus pula guna membentuk alis sesuai yang dikehendaki agar lebih tampak cantik.

Dari sini muncul persepsi, keadaan berubah lebih lebih dari dua tahun itu tergolong permanen atau tidak akan menentukan status hukum suatu masalah.

Nah, hal ini sudah termasuk mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala apalagi sifatnya permanen. Dan Allah sangat mengecam keras hal itu. Jika ciptaan Allah itu bersifat permanen, tetapi pengubahannya tidak permanen (bisa kembali seperti semula), maka diperbolehkan. Termasuk menyemir rambut yang beruban, mencukur alis atau kumis, mengenakan kutek, itu diperbolehkan karena tidak permanen dan bisa kembali seperti semula.

Mengenai sulam alis dan bibir, hukumnya sama dengan tattoo. Jika bersifat permanen maka hukumnya haram, tetapi jika tidak permanen maka hukumnya mubah. Maka jika sulam bibir itu dianggap pengubahan yang tidak permiiqih tanen maka secara fiqih tidak ada masalah, diperbolehkan. Seperti penggunaan lipstik yang biasanya bertahan cuma sehari, namun jika sulam bibir ini bertahannya selama bertahun- tahun maka ini dianggap permanen dan haram hukumnya.

Begitu juga praktek sulam alis ini, ada proses penghilangan alis yang asli secara permanen dan dibuat dengan alis yang baru. Oleh karena itu hukum keduanya tidak dapat disamakan. Kalau sulam bibir ada peluang untuk diperbolehkan walaupun ada yang mengharamkan, tapi sulam alis ini amat sulit dicari peluang bolehnya. Mayoritas fuqaha’ kontemporer mengharamkannya, apalagi fuqaha klasik.
Yang dibolehkan terkait alis hanyalah mencukur sebagian guna mengurangi ketebalannya, asal pencukurannya tidak total dan tidak berakibat perubahan permanen. (Yetty Hutagalung / Jurnalis Warga / rk)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita