Senin, 14 Juni 2021

Tutupnya Toko Ritel Sebabkan 1.200 Orang Kehilangan Pekerjaan

Tutupnya Toko Ritel Sebabkan 1.200 Orang Kehilangan Pekerjaan

Foto. Survei Nielsen menguak penyebab lesunya industri ritel. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Janji penyediaan 10 juta lapangan kerja dari Presiden Jokowi saat kampanye rasanya tak terwujud, bahkan yang kehilangan pekerjaan terus bertambah. Dari sektor ritel, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan, saat ini ada 1.200 karyawan yang telah kehilangan pekerjaan akibat tutupnya sejumlah gerai ritel modern sejak medio 2017.

Banner Iklan Swamedium

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, kondisi karyawan eks gerai ritel yang kehilangan pekerjaan karena toko tutup itu memunculkan masalah baru yang harus cepat dicarikan solusinya.

Roy mengusulkan agar pemerintah segera melakukan koordinasi dengan peritel untuk menempatkan mantan karyawan mereka di Balai Latihan Kerja (BLK) atau pelatihan vokasi lain yang tersedia. Hal ini, kata dia, penting dilakukan jika pemerintah tidak ingin angka pengangguran meningkat.

“Kami berharap ada upaya proaktif dari regulator, karena yang namanya penutupan toko pasti berdampak pada PHK,” ujar dia, Senin (30/10) yang dikutip republika.co.id.

Seperti diketahui, berita penutupan toko ritel terus datang silih berganti. Bermula dari PT Modern Internasional yang menutup 168 gerai 7 Eleven mereka pada Juli. Kemudian, tutupnya Matahari Pasaraya Blok M dan Manggarai, sejumlah gerai Ramayana, dan yang terbaru Lotus dan Debenhams.

Ekonom dari institute for development of economics and finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai, tumbangnya sejumlah gerai ritel modern disebabkan oleh ketidakmampuan peritel dalam membaca pergeseran pola konsumsi di masyarakat.

Saat ini, menurut dia, memang tengah terjadi perubahan pasar konsumen, terutama di kota-kota besar di Indonesia. Perubahan tersebut dipicu oleh bergesernya usia konsumen yang saat ini didominasi oleh kalangan muda usia 18-35 tahun.

Bhima menjelaskan, profil konsumen yang menguasai pasar saat ini lebih menggandrungi gaya hidup nongkrong ketimbang belanja produk fashion.Karena itu lah, gerai-gerai ritel yang tak menyesuaikan diri dengan perubahan selera konsumen tersebut satu per satu bertumbangan. Faktor lain seperti lokasi yang tak lagi strategis, perencanaan bisnis yang kurang matang dan biaya operasional yang terlalu besar juga ikut menjadi penyebab tumbangnya sejumlah gerai ritel modern. (*/maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita