Jumat, 25 Juni 2021

Harga Komoditas Naik, Perekonomian 2018 Berpotensi Membaik

Harga Komoditas Naik, Perekonomian 2018 Berpotensi Membaik

Foto. Pertumbuhan ekonomi 2017 gagal capai target. (nael)

Jakarta, Swamedium.com – Harga-harga komoditas di pasaran dunia yang membaik menjelang akhir tahun ini diprediksi membawa keberuntungan bagi perekonomian Indonesia tahun depan. Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 akan membaik, bahkan bisa melampaui target APBN yang dipatok sebesar 5,4%.

Banner Iklan Swamedium

Pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 di kisaran 5,4%, lebih tinggi dibanding target pertumbuhan ekonomi pada RAPBN 2017 sebesar 5,2%.

Wapres Jusuf Kalla mengatakan, pada akhir 2017 hingga awal 2018, tanda-tanda perbaikan ekonomi dunia akan dilihat dari membaiknya harga-harga komoditas, seperti harga batu bara yang saat ini sudah mendekati USD 100 per ton.

Kemudian, harga minyak sawit mentah (crude palm oil /CPO) yang mulai merangkak naik di atas USD 600 per ton. Harga minyak bumi saat ini juga sudah berada di kisaran USD 55 per barel.

”Harga komoditas sudah beranjak naik. Dengan begitu, kita bisa lebih optimistis perekonomian Indonesia bisa lebih baik lagi,” ujar Wapres saat Breakfast Meeting: Prospek Ekonomi Indonesia 2018 di akhir pekan ini yang dirilis laman Okezone.com.

Mengapa kenaikan harga komoditas bisa mengangkat pertumbuhan ekonomi?

Wapres melanjutkan, kenaikan harga komoditas akan meningkatkan penerimaan pajak dari pajak pertambahan nilai (PPn) mau pun pajak penghasilan (PPh) yang akan dibayarkan pada tahun depan.

”Maka kita melihat optimisme di tahun depan, walaupun dunia mempunyai banyak masalah akibat konflik di Timur Tengah, Korea, dan beberapa negara lain di dunia, tapi secara umum diharapkan lebih baik,” ungkapnya.

Hal senada juga di sampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. Menurutnya, ekonomi Indonesia akan terus tumbuh menyusul adanya perbaikan ekonomi dunia yang diprediksi berada di angka 3,6% sepanjang 2017.

Hanya saja, Agus mengingatkan, ke depan ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, yakni harus mampu menjaga pertumbuhan agar tetap kuat, tinggi, dan inklusif sehingga tidak naik turun karena fluktuasi harga komoditas.

”Kami melihat prospek perekonomian Indonesia 2018 ber kisar 5,1-5,8%. DPR sudah menyetujui 5,4% (APBN), ini sejalan dengan proyeksi BI dan juga inflasi 2018 akan lebih baik dari inflasi tahun ini. Jadi secara umum stabilitasi sistem keuangan kita baik dan stabilitas makro ekonomi kita baik,” ungkapnya.

Kalangan pengusaha juga menilai, secara umum kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan meski ada sejumlah catatan yang harus di perbaiki, seperti kebijakan yang tidak konsisten dari pe merintah serta masalah upah tenaga kerja.

Menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani, dibutuhkan harmonisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah sehingga tidak menambah beban investor.

”Dari sisi perpajakan, agresivitas pajak dari Ditjen Pajak cukup membuat khawatir. Ini k ami sampaikan juga dengan Menteri Keuangan agar bisa dilakukan dengan cara yang baik, terbuka, dan elegan,” paparnya. (*/maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita