Senin, 14 Juni 2021

NGO Turki Berbagi Tips Menangani Ketergantungan Merokok

NGO Turki Berbagi Tips Menangani Ketergantungan Merokok

Foto: Nesrina Ozkan (kedua dari kanan) Asisstant Speciallist pada Scientific Commite Green Crescent Turki. (Yetty Hutagalung/jurnalis warga/swamedium)

Surabaya, Swamedium.com — Permasalahan ketergantungan rokok, tak hanya menjadi momok di Indonesia. Di Turki pun demikian. Namun, dalam 10 tahun terakhir ini, terjadi penurunan konsumen rokok yang luar biasa di sana.

Banner Iklan Swamedium

Nesrina Ozkan, Asisstant Speciallist pada Sientific Commite Green Crescent membagi tips keberhasilan Turki menurunkan jumlah konsumen rokok.

Kedatangannya di Indonesia, Nesrina Ozkan didampingi oleh Hatice Kalyoncu, Board Member of Green Crescent Society dan dr. Era Catur Prasetya, perwakilan Green Crescent Indonesia.

Para perwakilan Green Crescent itu direncanakan akan mengunjungi beberapa kampus, yaitu Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Program Psikiatri Kedokteran Unair, Fakultas Kedokteran Unusa dan Fakultas Kedokteran Yarsis.

Dalam kuliah tamu di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga Surabaya, Rabu (8/11), Nesrina menyampaikan bahwa Turki punya pengalaman yang baik dalam penanganan mengontrol ketergantungan masyarakat terhadap tembakau.

Ia mengatakan bahwa 10 tahun lalu di Turki sudah menjadi hal yang lumrah orang mengkonsumsi rokok. Para konsumen rokok itu tidak hanya berasal dari usia dewasa, bahkan anak-anak pun demikian. Tidak hanya dari kalangan laki-laki, perempuanpun tidak sedikit yang mengonsumsi rokok.

Menurut Nesrina, sudah ada 100.000 orang meninggal karena rokok di Turki tiap tahunnya akibat rokok kala itu. Hal itu membuat pemerintah mau tidak mau membuat aturan tentang pembatasan dan penanganan rokok.

Pada 2010, pemerintah bersama dengan Green Crescent memberikan layanan konsultasi gratis dan cepat bagi semua orang yang ingin berhenti merokok.

“Kami menyiapkan hotline khusus yang melayani 24 jam,” kata wanita 27 tahun itu.

Selain itu, pemerintah juga menaikkan pajak hingga 80%. Pada 2012, pelarangan iklan, pemerintah melarang iklan rokok dalam bentuk apapun.

Namun dalam 10 tahun terakhir ini, pemerintah Turki berhasil mengurangi konsumsi rokok di Turki. Terjadi pengurangan 520 juta batang rokok pada Juli 2008 dibandingkan bulan yang sama tahun 2007 dan pengurangan 457 juta batang kurang pada bulan Agustus 2008 dibandingkan bulan Agustus 2007.

Total konsumsi rokok pada Juli 2007 mencapai 10.700 juta batang rokok dan jatuh menjadi 10.180 juta batag pada Juli 2008. Terus menurun dari angka 10.678 batang rokok pada Agustus 2007 menjadi 10.221 juta batang rokok pada Agustus 2008. Dan angka penurunan ini berlangsung terus menerus hingga saat ini.

Keberhasilan menangani dan menurunkan konsumen rokok ini, menurutnya, karena komitmen politik pemerintah tentang penanganan rokok. Selain itu, kerjasama dengan NGO yang ada seperti Green Crescent sangat intens.

“Kolaborasi inilah yang sangat dibutuhkan untuk menangani dan membatasi rokok di sebuah negara,” tegas Nesrina.

Kerjasama antara pemerintah dan Green Crescent inilah yang melahirkan banyak program, antara lain menggelar training khusus untuk berbagai strata pendidikan mulai dari tingkat SD sampai SMU.

Dr. Era Catur Prasetya, perwakilan dari Green Crescent Indonesia, mengatakan bahwa Green Crescent Turki menawarkan pengalaman penanganan serupa untuk di Indonesia. Di Turki, perempuan merokok biasa. Bahkan yang berkerudung juga banyak yang merokok.

Jumlah perokok di Turki, lajutnya menurun drastis hingga 40%. Bungkus rokok berwarna putih polos, tidak ada tulisan apapun, sengaja dibuat sangat tidak menarik.

“Pengalaman menangani ketergantungan merokok ini baik untuk ditiru di Indonesia. Hari ini mereka melihat di Indonesia, apakah memungkinkan mendirikan Green Crescent di Indonesia,” pungkasnya.

Untuk diketahui Green Crescent, adalah Non Government Organization (NGO) yang mendampingi pemerintah Turki dalam menangani adiksi, baik ketergantungan terhadap rokok, narkotika, gadget dan seterusnya. Saat ini sudah ada 9 perwakilan di berbagai negara. (Yetty Hutagalung/jurnalis warga)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita