Selasa, 28 Juni 2022

Kabut Asap Sesakkan New Delhi

Kabut Asap Sesakkan New Delhi

Bonn, Swamedium.com — Konferensi perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-23 (COP23) sedang berlangsung. Saat dunia membahas pengurangan emisi, Delhi menghadapi kabut asap terburuk yang pernah terjadi.

Banner Iklan Swamedium

COP23 berlangsung di Bonn, Jerman, pada 6–17 November 2017.

Dalam rangkaian kegiatan COP23, ada bahasan tentang cara-cara mengurangi emisi gas rumah kaca dan bekerja menuju masa depan berkelanjutan.

Sementara itu, Ibu Kota India, Delhi, terdampak kabut asap yang sangat buruk.

Delhi dikenal sebagai kota dengan kualitas udara terburuk.

Keadaan akan semakin memburuk saat mendekati musim dingin. Ketika kedatangan musim dingin tidak membawa salju, biasanya hal itu membuat kondisi di Delhi memburuk.

Salju tidak akan turun menghampiri 20 juta warganya. Sementara, udara yang lebih dingin akan membuat kabut asap tetap berada dekat tanah.

Faktor lain yang berkontribusi atas buruknya kualitas udara di sana ialah Diwali, festival cahaya Hindu, yang diadakan bulan lalu.

Selama festival lima hari itu, masyarakat membakar kembang api dalam jumlah besar, dan kemacetan lalu lintas di seluruh kota itu semakin bertambah. Emisi gas buang kendaraan bermotor pun meningkat drastis.

Penyumbang utama kabut asap ialah gas buang kendaraan bermotor. Sebagai langkah awal, pemerintah kota telah menurunkan tarif angkutan umum serta menaikkan biaya parkir untuk mencegah penggunaan kendaraan pribadi, sehingga dapat mengurangi emisi.

Selain itu, para petani di beberapa desa sekitar Delhi membakar ladang-ladang mereka secara tradisional setelah panen. Tindakan itu pun berkontribusi pada polusi udara.

Praktik itu dilarang secara teknis, namun pihak berwajib cenderung menutup mata.

Pemkot Delhi pun meliburkan sekolah-sekolah.

Kabut asap sudah lazim terjadi di Delhi. Sebenarnya, kota yang dilalui oleh Sungai Yamuna ini adalah pemegang rekor yang menyedihkan, yakni sebagai ibu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Kabut asap menjadi begitu tebal, sehingga masyarakat sulit bernapas. Bahkan, mengaburkan matahari. Kabut asap memedihkan mata dan tenggorokan. Sebagian besar warga mengeluhkan sakit kepala.

Orang-orang berusaha sebaik mungkin melindungi diri mereka dari partikel halus polusi udara dengan kain atau masker. Akan tetapi, sebenarnya hal itu tidak begitu membantu.

Rabu (8/11), tingkat polusi udara di Delhi hampir mencapai 30 kali dari batas aman yang ditentukan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO).

Bahkan, beberapa kepala negara tidak dapat menghindari pekatnya udara di Delhi. Raja dan ratu Belgia, Philippe dan Mathilde, mengunjungi India selama tujuh hari. Rombongan tiba di Delhi pada Ahad (5/11) malam.

Masyarakat Delhi sudah muak dengan kualitas udara yang buruk di kota mereka. Mereka memprotes Pemkot Delhi. Sejauh ini, respons Pemkot atas krisis tersebut hanya setengah hati. (Pamungkas)

Sumber: DW

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita