Sabtu, 28 November 2020

Wawancara di Penjara Turki, Jurnalis Jerman: Presiden Erdoğan Ketakutan

Wawancara di Penjara Turki, Jurnalis Jerman: Presiden Erdoğan Ketakutan

İstanbul, Swamedium.com — Deniz Yücel (44), jurnalis Jerman, menuding pemerintah Turki “menyeret kakinya” dalam wawancara pertama dari sel penjara di Turki.

Tindakan keras Turki terhadap para wartawan akan dimasukkan dalam sejarah sebagai “aib”, kata Deniz kepada Die Tageszeitung, yang terbit Sabtu (11/11).

Deniz bekerja sebagai koresponden surat kabar Die Welt di Turki. Ia ditahan oleh polisi Turki atas tuduhan “propaganda teroris” dan “menghasut kebencian” pada Februari tahun ini.

Dalam wawancara yang dibantu oleh penasihat hukumnya, Deniz merinci segala sesuatu tentang penahanannya di penjara berkeamanan tingkat tinggi di Silivri, İstanbul.

“Meskipun masih belum ada dakwaan, saya tahu mengapa saya ditahan. Karena … saya melakukan tugas saya sebagai seorang jurnalis sebagaimana semestinya,” ungkap Deniz.

Deniz lahir dalam keluarga imigran Turki di Jerman. Ia berkewarganegaraan Jerman dan Turki.

Deniz meraih penghargaan jurnalisme bergengsi, Theodor Wolff, dari asosiasi penerbit surat kabar federal Jerman (BDZV).

Nasibnya tersebut menjadi salah satu topik perselisihan diplomatik antara pemerintah Jerman dan Turki. Pemerintah dan masyarakat Jerman berulang-ulang mendesak pembebasannya.

Akan tetapi, pemerintah Turki mengabaikannya.

Bahkan, Presiden Recep Tayyip Erdoğan mencela Deniz secara personal sebagai seorang “agen teroris” dan seorang “mata-mata Jerman”.

Pada 22 Oktober, Turki merilis seorang aktivis Jerman, tetapi masih menahan sembilan warga Jerman yang lainnya menurut kementerian luar negeri Jerman.

Sebelumnya, pemerintah Turki juga telah menggunakan surat perintah penangkapan internasional terhadap Jerman untuk meminta penahanan serta ekstradisi orang-orang yang dianggap mengancam keamanan nasional Turki.

Rezim Ketakutan
Otoritas penjara Silivri menahan Deniz dalam suatu kurungan tersendiri.

Informasi itu terungkap pada Mei lalu ketika DW mewawancarai Safak Pavey, seorang anggota parlemen Turki dari partai oposisi, CHP, yang pernah mengunjungi Deniz.

“Isolasi adalah penyiksaan,” ungkap Deniz dalam wawancara dengan Die Tageszeitung. “Meskipun saya bertahan dengan baik, saya tidak dapat memprediksi konsekuensi jangka panjang apa yang akan terjadi.”

Deniz mengatakan bahwa rezim petahana Turki berkuasa karena ketakutan. Bahkan, para penjaga penjara pun tampaknya takut melakukan kesalahan.

“Suatu rezim ketakutan tidak hanya diarahkan untuk menentang para kritikusnya, tetapi juga menentang anggota-anggota mesin penindasnya,” kata Deniz.

“Pihak penegak hukum, hakim, pejabat senior, bahkan politisi pemerintahan, mereka semua takut. Hanya satu orang yang tidak,” ungkapnya menyinggung Erdoğan. “Sebenarnya, ia (Erdoğan) lebih takut daripada semua yang lain karena ia tahu apa yang akan terjadi jika ia kehilangan kekuasaannya. Oleh sebab itu, ia menundukkan seluruh masyarakat kepada rezim ketakutannya.”

Setelah permintaan pembebasannya ditolak oleh hakim Turki, Deniz mengajukan aduan kepada Mahkamah Eropa untuk hak asasi manusia.

Mahkamah HAM yang berlokasi di Strasbourg, Prancis, itu mendesak pemerintah Turki untuk memberikan pandangannya atas kasus Deniz pada 24 Oktober, tetapi pemerintah Turki meminta penangguhan, bahkan hingga dua kali. Akhirnya, mahkamah itu menentukan batas akhir pada 28 November.

Dalam wawancara tersebut, Deniz menuding pemerintah Turki “menyeret kakinya” dan meminta Mahkamah Eropa itu segera memutuskan sesuatu atas kasusnya.

“Saya akan sangat senang jika pemerintah Turki mengikuti keputusan mereka (Mahkamah HAM) untuk membebaskan saya,” harap Deniz.

“Saya mau pengadilan yang adil,” pungkasnya. (Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.