Minggu, 11 April 2021

Peringati Hari Ayah, Begini Kisah Anies dengan Ayah dan Kakeknya

Peringati Hari Ayah, Begini Kisah Anies dengan Ayah dan Kakeknya

Foto : Abdurrahman Baswedan (kiri atas), Rasyid Baswedan (kanan atas), Anies Rasyid Baswedan (bawah) (dok. Pribadi)

* Oleh : Anies Rasyid Baswedan.

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Namanya Rasyid Baswedan, Ayah adalah pribadi yang amat stabil, lempeng dan tegas. Di siang hari bekerja keras, mengajar di sekolah dan kampus. Di malam hari jadi penutur dongeng bagi anak-anaknya.

Dongengnya penuh variasi mulai dari yang lucu hingga cerita sedih atau cerita menegangkan. Semua adalah dongeng karangannya sendiri.

Meja makan di rumah jadi saksi ayah mengijinkan anak-anaknya diskusi dan debat, termasuk bila berbeda pandangan dengannya. Beliau tidak mengatur pikiran, tapi mengatur cara dan adab dalam mengungkapkan pikiran.

Dengan diboncengkan vespa, Ayah antarkan saya yg masih duduk di bangku SD untuk jadi anggota perpustakaan di Harian Kedaulatan Rakyat. Hari Minggu, sama-sama membersihkan vespa dan sebulan sekali menguji mesin sambil membersihkan busi mesin vespa.

Ayah selalu menjaga semangat utk terus berjuang dan tetap teguh walau ada hantaman. Ia berpesan, “Kalau mau bebas hantaman, ya duduk-duduk santai aja di rumah, kalau berjuang maka tantangan dan hantaman adalah kenormalan”.

Abdurrahman Baswedan, Ayahnya Ayah. Kami sekeluarga, Ayah—Ibu dan tiga anak, menempati satu kamar di rumah Kakek. Kadang2 suka heran, bagaimana bisa satu kamar bisa diisi oleh 5 orang, tapi waktu itu terasa biasa-biasa saja dan semua enjoy.

Karena satu rumah, maka saat masih di bangku TK, Kakek selalu jemput dan langsung ajak jalan kaki ke kantor pos. Tiap hari beliau ke kantor pos, kirim surat atau kirim artikel utk koran atau majalah sambil olahraga. Ada sebuah pesan singkat dari Kakek, “Begitu ada waktu senggang maka baca, baca buku apapun. Jangan buang waktu tanpa baca.”

Suatu ketika, saya duduk di bangku kelas 4 SD, paman ditangkap karena dia aktivis mahasiswa yang memprotes NKK-BKK. Dari UGM dibawa ke Semarang. Ditahan beberapa bulan oleh Kopkamtib tanpa proses pengadilan dan lain-lain. Ayah rutin menjenguk bawa buku dan makanan. Kakek ikut mendirikan Republik ini, dan saat-saat anak bungsunya itu ditahan oleh pemerintah republik ini, ia berpesan pada semua keluarga, “Jangan pernah khawatir, ini konsekuensi sebuah perjuangan, biasa saja. Berani melawan, maka berani ditahan.

Itulah Ayah dan Ayahnya Ayah.
Selamat Hari Ayah !! (*/rk)

Penulis adalah Gubernur Provinsi DKI Jakarta.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita