Senin, 14 Juni 2021

Bolehkah Menjamak Shalat Saat Banjir?

Bolehkah Menjamak Shalat Saat Banjir?

Foto: Ilustrasi (ist)

Surabaya, Swamedium.com – Menjamak Shalat adalah mengumpulkan dua shalat yang dikerjakan dalam satu waktu tetapi masing- masing tetap dikerjakan secara terpisah (masing- masing tetap dalam jumlah rakaat yang sempurna dengan dua kali salam). Menjamak shalat ini ada dua macam, yaitu jamak taqdim dan jamak ta’khir.

Banner Iklan Swamedium

Jamak taqdim adalah mengumpulkan dua shalat yang dikerjakan di waktu shalat yang awal (dhuhur atau maghrib), sedangkan jamak ta’khir adalah mengumpulkan dua shalat yang dikerjakan di waktu yang akhir (asar atau isya’).

Shalat yang boleh dijamak (dikumpulkan) hanyalah shalat dhuhur dengan asar, dan shalat maghrib dengan isya. Tidak boleh menjamak antara shalat asar dengan shalat maghrib, juga tidak boleh antara shubuh dengan shalat apapun.

Jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) membolehkan dilakukannya jamak taqdim adalah didasarkan pada makna hadist yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, bahwa: “Pada waktu perang Tabuk, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan berangkat sesudah waktu maghrib, maka beliau mengerjakan shalat isya dijamak dengan maghrib, maka beliau mengerjakan shalat isya dijamak dengan maghrib” (HR Ahmad, Abu Dawud, at- Turmudziy dan al- Hakim).

Sedangkan alasan dibolehkannya jamak ta’khir adalah makna hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa : ”Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perjalanan sebelum matahari tergelincir(belum masuk waktu dhuhur), maka beliau tunda shalat dhuhur ke waktu asar, kemudian beliau menjamaknya (dhuhur dengan asar).

Tetapi jika beliau berangkat setelah matahari tergelincir (masuk dhuhur), maka beliau shalat dhuhur dulu baru berangkat” (HR al- Bukhariy dan Muslim).

Sementara itu, fuqaha’ Hanafiyah (pengikut madzhab Hanafiy) tidak membolehkan jamak shalat karena shalat itu sudah ditentukan waktunya masing- masing, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala (yang maknanya): “Sungguh shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang- orang yang beriman” (an- Nisaa’ 103), kecuali ketika sedang menunaikan ibadah haji di Arafah dan Muzdalifah, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya (HR al- Bukhariy dan Muslim).

Mengenai sebab- sebab dibolehkannya menjamak shalat, para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) berbeda pendapat. Fuqaha’ Malikiyah (pengikut madzhab Malikiy) berpendapat, bahwa hal- hal yang membolehkan menjamak shalat itu ada enam, yaitu: bepergian (jauh atau dekat), hujan, sakit, wukuf di arafah, berada di Muzdhalifah, dan berada dalam keadaan yang sangat gelap.

Sedangkan menurut fuqaha’ Syafi’iyah (pengikut madzhab Syafi’iy) hal- hal yang membolehkan menjamak shalat adalah bepergian jauh (90km lebih), hujan lebat, sedang melaksanakan ibadah haji di Arafah dan Muzdhalifah. Adapun fuqaha’ Hanabilah (pengikut madzhab Hanbaliy) berpendapat, bahwa hal- hal yang membolehkan menjamak shalat itu ada tujuh macam, yakni: bepergian jauh (70km lebih), sakit, ibu yang menyusui, tidak mampu bersuci (wudlu atau tayammum) setiap shalat, tidak bisa mengetahui waktu shalat, wanita yang istichadlah (mengeluarkan darah yang terus menerus), dan/ atau ada udzur (halangan), seperti khawatir keselamatan diri atau hartanya, atau pekerja berat yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.

Hal ini didasarkan pada makna hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami di Madinah dengan menjamak shalat dhuhur dengan asar dan shalat maghrib dengan isya” (HR Muslim), kemudian Muslim menambahnya dengan “bukan karena takut dan bukan karena bepergian.”

Bagaimana halnya jika dalam keadaan banjir, bolehkah melaksanakan shalat secara jamak? Berpijak pada uraian diatas, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pada prinsipnya shalat lima waktu itu sama sekali tidak boleh ditinggalkan, apapun alasannya. Namun jika karena sesuatu hal tidak dapat mengerjakannya pada waktu yang telah ditentukan, maka jalan terbaik adalah menjamaknya, dhuhur dengan asar dan/ atau maghrib dengan isya.

Hal- hal yang dianggap dapat menjadi sebab bolehnya seseorang menjamak shalat ternyata antara fuqaha’ satu dengan fuqaha’ yang lain berbeda, karena perbedaan interpretasi mereka terhadap dalil dan perbedaan persepsi mereka terhadap keadaan yang dianggap pantas menjadi penyebab bolehnya jamak shalat. Ini artinya bisa ditambahkan faktor yang lain sejenis memang benar- benar menyebabkan sulitnya sesorang mengerjakan shalat pada waktunya.

Oleh karena itu dapat ditegaskan, bahwa semua jenis udzur (halangan), membolehkan kita untuk menjamak shalat, termasuk banjir pada level yang secara umum menyulitkan seseorang melaksanakan shalat pada masing- masing waktu yang telah ditentukan, asal halangan tersebut bukan berupa kemaksiatan atau pelanggaran ajaran agama, dan harus tetap disertai hati yang taat pada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Banjir dalam level tertentu, memang pantas diberi rukhshah (keringanan) untuk menjamak shalat, karena banyak kondisi tidak normal yang membuat mereka yang terkena banjir tidak mudah melaksanakan shalat pada masing- masing waktunya, seperti menjaga harta yang dikuatirkan hanyut atau hilang, menjaga anak- anak agar tidak melakukan hal- hal yang membahayakan, berwudlu dengan air darurat yang harus dihemat, atau dengan air banjir yang “kotor” sehingga frekuensinya tidak ingin terlalu sering karena agak jijik walaupun suci dan sah, dan sebagainya. (Yetty Hutagalung/jurnalis warga)

Sumber: Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA buku “Fiqih Kontemporer” (Edisi 2)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita