Minggu, 25 Juli 2021

Akankah Mohammed bin Salman Menjadi Putin Versi Arab Saudi?

Akankah Mohammed bin Salman Menjadi Putin Versi Arab Saudi?

Presiden Vladimir Putin berjabat tangan dengan Pangeran Mohammed bin Salman saat pertemuan di Kremlin, Moskva, (30/5). (Pavel Golovkin/Reuters)

Jakarta, Swamedium.com — Jika rangkaian kejadian yang berlangsung di Riyadh merupakan indikasi seolah-olah putra mahkota Saudi, Mohammed bin Salman (MbS), sebagai seorang raja, kita berada dalam perjalanan yang tidak mulus selama beberapa tahun ke depan.

Banner Iklan Swamedium

Guncangan konsensus kekuasaan internal Saudi yang telah berlangsung puluhan tahun serta pengunduran diri perdana menteri Libanon, Saad Hariri, di Riyadh, semuanya menunjukkan bahwa MbS mencari pengakuan kekuasaannya, baik domestik maupun internasional.

Beberapa pengamat menjulukinya “Vladimir Putin versi Asia Barat” berdasarkan tindakan tegasnya dalam mengubah kesetimbangan kekuasaan di Kerajaan dan membobrokkan oligarki Saudi.

Kesesuaian Rusia-Saudi dalam beberapa bulan terakhir mungkin tepat karena Vladimir Putin dan MbS saling mengerti satu sama lain. Keduanya cenderung menggunakan tindakan keras terhadap isu-isu domestik dan internasional, serta keduanya memandang dunia sebagai hitam dan putih.

Sejak MbS didaulat oleh bapaknya, Raja Salman, pada awal 2015, kebijakan luar negeri Saudi telah mengalami perubahan mengikuti gaya Rusia yang menganut karakter ofensif penuh.

Perang Yaman, blokade Qatar, dan yang terkini, peran Saudi dalam perkembangan Libanon, semuanya itu tampaknya mengadaptasi strategi Rusia.

Presiden Rusia ini dapat dikatakan merupakan seorang politikus yang membawa politik praktis kembali ke tren, seperti kampanye militernya di Suriah dan rangkaian campur tangan kompleks di negara-negara bekas bagian Soviet.

Karena di regionnya keseimbangan kekuasaan makin berubah, Arab Saudi mencari kebutuhan untuk tetap waspada dan proaktif. Oleh sebab itu, kebijakan revisionis Putin bergema kuat seiring kepemimpinan di Riyadh.

Walaupun Putin dan MbS memiliki pendekatan luar negeri yang mirip, mereka memulainya dari faktor-faktor yang berbeda.

Dengan kepemimpinannya yang tidak menghadapi penentang yang menyusahkan di dalam negeri, Putin dapat menghasilkan strategi penghargaan-hukuman jangka panjang.

Bagi MbS, kebijakan luar negeri ialah untuk jangkauan yang luas, memerintah demi kebutuhan memperkuat kekuasaannya di dalam negeri sesegera mungkin.

Tiada keraguan bahwa Putin dan MbS merupakan produk dari sistem yang sangat kuat yang telah mereka usahakan untuk mengendalikannya.

Putin muncul ketika kacaunya kekuatan Rusia pada 1990-an; ia berusaha mencari cara untuk berkuasa sepanjang 2000-an, menentang oligarki bisnis yang membandel, dan ia berhasil.

Sementara itu, MbS telah menjadi seorang yang mendapatkan manfaat dari sistem konsensus Kerajaan; bapaknya, Raja Salman, telah memperoleh takhta, menunggu dengan sabar untuk gilirannya.

Bagaimana pun jika menggunakan strategi Putin, MbS melakukannya dengan keliru. Dengan menyingkirkan beberapa anggota keluarga yang berpengaruh dari jajaran kekuasaan, pangeran muda itu membongkar sistem konsensus, sistem yang telah memungkinkan Arab Saudi menjaga keseimbangan dan mengelola Kerajaan secara bersama-sama selama puluhan tahun.

Faktanya, apa yang MbS ingin lakukan ialah menerapkan sistem pemerintahan yang berdasarkan kekuasaan tanpa pesaing seperti strategi Putin.

Akan tetapi, tidak seperti Putin, MbS merusak keseimbangan yang telah membantu Kerajaan menjaga stabilitas.

Faktor demikian menandakan perbedaan utama antara Putin dan MbS. Putin memiliki indra yang baik terhadap dinamika kekuatan domestik serta menguasai mereka dengan mudah. Ia ciptakan suatu sistem politik yang mengadu para pesaing satu sama lain, sedangkan ia bertindak sebagai seorang wasit bagi mereka.

Dalam struktur tersebut, masing-masing individu politis mencari kedekatan dengan sang pemimpin serta bersaing satu sama lain demi perhatian dan kemurahan hati Putin.

Para kompetitor berfokus pada persaingan mereka dan tidak akan menantang sang penguasa.

MbS berusaha membentuk sistem yang sangat berbeda. Ia melemahkan anggota Kerajaan yang lain dari jajaran kekuasaan untuk menjaga kekuasaannya atas mereka. Langkah itu tidak menjamin stabilitas seperti sebelumnya dan tidak akan dapat menjaga keberlangsungan rezim. (Pamungkas)

Disarikan dari tulisan Yury Barmin, seorang pakar Afrika Utara dan Asia Barat-Tengah dari dewan urusan internasional Rusia, yang dimuat di Al Jazeera.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita