Jumat, 27 November 2020

Liburan Bikin Enjoy atau Malah Bikin Stress?

Liburan Bikin Enjoy atau Malah Bikin Stress?

Foto: Ilustrasi. (Yetty Hutagalung/jurnalis warga/swamedium)

Surabaya, Swamedium.com — Sebagian orang menganggap liburan adalah sebuah keharusan. Namun bagi sebagian yang lain menganggap liburan adalah hal penting.

Tapi apakah liburan itu sendiri dapat membuat kita refresh ataukah justru sebaliknya, malah bikin stress dan capek. Pada hakikatnya, liburan memang tidak perlu mahal. Karena setiap orang memiliki parameter sendiri- sendiri dalam menghabiskan waktu senggangnya.

Seberapa pentingkah liburan bagi kita?

Menurut Psikolog, Nuri Fauziah, M.PSI, liburan itu sangatlah penting. Sebagaimana paragraf atau kalimat dia harus ada titik untuk menjedah. Tujuan dari titik itu sendiri yaitu sebagai pembatas antara kalimat satu dengan kalimat yang lain.

Begitupun juga liburan, liburan bagaikan oase ditengah padang pasir, sangat penting bagi kita selama intensitas dan waktunya itu tepat.

Nuri menambahkan, liburan itu diperlukan setiap orang bergantung dari tingkat stres masing- masing. Setiap orang memiliki ambang batas stres yang berbeda.

Ada yang diberikan masalah sedikit saja, sudah merasa stres berat, dan ada yang diberikan masalah yang berat merasa belum stress. Barulah ketika ditingkat tertentu, sudah mulai merasa stres.

Oleh karenanya, kata Nuri, kadar liburan yang diperlukan tiap- tiap orang pasti berbeda. Karena bagaimanapun jenis liburan yang diambil seseorang dengan tingkat aktifitasnya harus berbanding lurus.

“Ada orang yang berlibur hanya sehari saja, tetapi berkualitas ada juga yang liburannya panjang tetapi tidak berkualitas. Liburan tetapi bawa kerjaan, liburan tetapi meninggalkan banyak masalah, itu kan sama aja”, tutur wanita kelahiran Tasikmalaya, 25 November 1984.

Haruskah Liburan Itu Mahal?

Jenis liburan yang cocok bagi setiap orang bergantung dari value masing- masing. Ingin memilih liburan mewah atau tidak itu adalah pilihan setiap orang. Setiap orang memiliki parameter yang berbeda, bergantung dari kondisi ekonominya seperti apa? Asalkan memastikan semua bisa seimbang dengan kebutuhan dan keuangan.

Owner dari Triple Day Care ini mengatakan, liburan tidak harus mahal atau bepergian keluar kota. Asal, jangan sampai besar pasak daripada tiang, apalagi sampai harus berhutang hanya karena menginginkan liburan mewah seperti yang orang lain lakukan.

“Sebaiknya setiap keluarga memiliki perencanaan yang bagus ketika ingin berlibur. Sehingga jika ingin berlibur, maka bisa direncanakan jauh- jauh hari sebelumnya”, ujar mantan Kepala sekolah TK. Ar- Rasyid tersebut.

“Misalnya dalam satu keluarga itu memiliki planning untuk berlibur ke Bali, maka satu keluarga tersebut membuat sebuah anggaran keuangan. Kemudian, membuat kesepakatan tempat- tempat apa saja yang ingin dikunjungi,” imbuhnya.

“Tujuannya agar setiap anggota keluarga ini dapat menikmati liburan tersebut, dan jangan sampai tujuan wisata itu membosankan atau justru tidak menyenangkan bagi sebagian yang lain. jika kesepakatan itu tidak dibuat, maka jangan harap liburan keluarga akan menyenangkan, karena bagaimanapun setiap anggota keluarga tentu memiliki keinginan masing- masing”, imbuhnya lagi.

Adapun jika ingin berlibur dengan anak, sambung Nuri, usahakan tempat liburannya memiliki sisi edukasi tujuannya agar anak mendapatkan wawasan, ilmu pengetahuan, mendapatkan insipasri baru serta pengalaman yang seru dan menyenangkan.

“Sesekali juga kita perlu Me Time, dan itu saja sudah cukup untuk merefresh ketegangan- ketengangan”, kata Nuri.

Nuri menjelaskan, ‘Me time’ merupakan momen penting bagi seseorang untuk beristirahat dari aktivitas sehari-hari dan menyediakan waktu bagi diri sendiri. Bukan untuk suami bahkan anak-anak. Tanpa meluangkan ‘me time’ seseorang bisa menjadi mudah lelah, bad mood, wajah kusam, bosan hingga merasa tertekan.

“Pada dasarnya manusia, meskipun dia bersosialisasi tapi tetap adalah makhluk individual. Butuh waktu buat sendiri. Manusia butuh menyenangkan diri sendiri tanpa harus melibatkan orang lain. Melakukan sesuatu sendiri bikin kita jadi orang yang lebih baik dan menyenangkan,” ujar Nuri, yang saat ini menjabat sebagai direktur Zamzami Foundation.

Ketika ditanya mengenai alternatif liburan yang murah, Nuri menjawab, jenis liburan itu beragam, ada sebagian muslim yang berekreasi dengan cara bersafari datang ke masjid- masjid, ada juga yang datang ke pondok pesantren, ada pula yang berekreasi dengan jalan- jalan ke mall dan lain sebagainya tergantung value masing- masing individu.

Namun, kata dia, pastikan rekreasi itu berkualitas, yaitu memiliki sisi- sisi katarsis untuk meredakan ketegangan. Menurut Nuri, sebaik- baik liburan seorang muslim adalah dengan berinteraksi dengan Al- Qur’an dan mendekatkan diri dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nuri juga menambahkan, bahwa saat ini banyak sekali aplikasi-aplikasi agen perjalanan yang memberikan banyak kemudahan. Media sosial sendiri sangat membantu mengumbar sisi-sisi kenarsisan seseorang ketika berlibur, sehingga menimbulkan efek latah bagi yang melihatnya.

Oleh karenanya, kata Nuri, jangan sampai terjebak dalam kondisi tersebut yang justru akan menimbulkan liburan jadi tidak menyenangkan dan bikin tambah stres.

Nuri menyarankan, alangkah baiknya jika liburan dilakukan bersama dengan orang- orang yang kita cintai karena walaupun panjang akan terasa singkat, dan sebaliknya jika berlibur dengan orang yang tidak kita sukai maka liburan itu akan terasa menyebalkan.

Manfaat Liburan Secara Psikologis

Jika dilihat dari sisi psikologi, aktifitas liburan ini ternyata memegang peranan penting bagi timbulnya efek positif di diri seseorang. Yaitu dapat mendorong pemikiran yang kreatif, menimbulkan rasa empati, motivasi, inovatif, dan daya juang yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Selain itu, kata Nuri liburan dapat menambah wawasan dan memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan. (Yetty Hutagalung/jurnalis warga)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.