Sabtu, 28 November 2020

Kisah Muslim di Korea Selatan

Kisah Muslim di Korea Selatan

Masjid Pusat Seoul di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, dibangun pada 1974, dibuka pada 1976, dan direnovasi menjadi tiga tingkat pada 1991. (Radu Diaconu/Al Jazeera)

Seoul, Swamedium.com — Jumlah Muslim Korea Selatan mencapai 0,2 persen dari populasi penduduk. Penduduk Korsel berjumlah lebih dari 51 juta jiwa. Penganut kristianisme dan konghucu mendominasi negeri ginseng itu.

Tahun ini merupakan tahun kesepuluh setelah krisis penyanderaan warga Korsel di Afghanistan. Peristiwa itu adalah titik balik dalam sejarah Islam di Korsel.

Berbagai generasi pribumi Muslim Korsel merefleksikan identitas mereka, baik sebagai seorang Korea maupun sebagai seorang Muslim ketika Korsel membuka pintu bagi turis Muslim, berusaha menggantikan jumlah turis Cina yang makin berkurang.

Jumlah turis Muslim dari 2015 hingga 2016 meningkat 33 persen. Organisasi pariwisata Korsel (KTO) berharap jumlah turis Muslim yang mengunjungi Korsel hingga akhir 2017 mencapai 1,2 juta orang.

Dengan memanfaatkan potensi ekonomi melalui pariwisata, Korsel meningkatkan kuantitas sertifikat Halal bagi restoran dan tempat shalat.

Organisasi pariwisata Seoul mempromosikan rangkaian video yang menampilkan restoran ramah Muslim yang berada di seluruh Ibu Kota Korsel itu.

Islam dan Semenanjung Korea memiliki latar belakang sejarah yang memesona. Sejak era Jalur Sutra pada abad kesembilan hingga zaman modern yang serba terhubung, ikatan yang pernah terjalin melalui perjalanan maritim kini telah diteruskan kepada generasi baru Muslim muda Korsel. Mereka berusaha menemukan keseimbangan antara kebudayaan Korea mereka dengan Islam.

Melacak sejarah Islam di Korea dan pengenalan kembali Islam oleh pasukan Turki pada Perang Korea 1950–1953, Al Jazeera berbicara dengan beberapa orang dari generasi Muslim Korsel.

Mereka mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi dalam lingkungan masyarakat penganut konghucu Korsel yang didominasi oleh kelas-kelas sosial, hierarki usia, budaya minum minuman beralkohol, dan ketidakpercayaan terhadap Islam.

Imam A. Rahman Lee Ju-Hwa memeluk Islam pada 1984. Pada awalnya, sulit bagi sang imam untuk mengatakan kepada teman-temannya bahwa ia tidak dapat lagi berkumpul sambil makan daging panggang dan minum minuman beralkohol.

“Kembali ke waktu itu, teman-teman saya tidak mengerti tentang agama saya dan mendesak saya untuk minum,” kenangnya. “Hal itu berlangsung cukup lama, tetapi sekarang mereka memahami saya.”

Dibangun di Itaewon, Seoul, pada 1974, Masjid Pusat Seoul dibuka pada 21 Mei 1976. Donasi dari Malaysia dan dukungan pemerintah Korsel yang menyediakan lahan pembangunan masjid patut diapresiasi.

Pada Desember 1991, masjid itu direnovasi menjadi tiga tingkat berkat bantuan dari bank pengembangan Islam, Jeddah.

Masjid tersebut menampung sekitar 800 umat Islam setiap shalat Jumat.

Harun Kara, seorang warga Turki, bekerja pada Mr. Kebab yang berlokasi di pintu masuk jalanan yang warga lokal sebut sebagai “Jalanan Muslim”. Jalanan itu mengarah ke Masjid Pusat Seoul. Di sepanjang jalanan itu terdapat restoran-restoran Arab dan toko-toko manisan Turki.

Harun merupakan salah seorang dari komunitas kecil Turki yang tinggal di Korsel. Pertama kali, ia tiba dan menetap di sana usai Perang Korea ketika 15.000 pasukan Turki berperang bersama pasukan Korsel secara sukarela.

Sebagian besar dari mereka memilih untuk tetap tinggal dan memperkenalkan kembali Islam kepada Korsel. Selama perang berlangsung, pasukan Turki mendirikan “masjid-masjid tenda” untuk kegiatan mereka, bahkan mendukung Islamisasi warga Korsel. Peristiwa itu menjadi dasar penyebaran Islam di Korsel pada abad kedua puluh.

Keterlibatan dan upaya bantuan bangsa Turki di Korsel meninggalkan kesan yang begitu lama, sehingga tidak aneh bagi warga Korsel untuk menggambarkan orang-orang Turki sebagai “saudara kandung” mereka.

Setelah bekerja di Masjid Pusat Seoul selama sepuluh tahun, Safiya Kang memutuskan untuk memeluk Islam pada 2015.

“Mulanya, seperti kebanyakan teman saya, saya tidak tahu sama sekali tentang Islam, dan mengaitkannya dengan peristiwa 11 September dan terorisme,” ungkapnya. “Namun, saya ingin tahu lebih banyak tentang [Nabi] Muhammad, Allah, dan apakah Islam itu sebenarnya … Saya yakin Islam itu benar, itulah mengapa saya memeluk Islam.”

Meskipun keluarganya mengerti dan suami kristiannya menyukai masakan Korea halal buatannya, Safiya memilih untuk mengenakan hijab di jalanan-jalanan Seoul hanya saat-saat tertentu saja. “Saya tidak suka ketika orang-orang memandangi saya,” jelasnya.

Ia masih berusaha menemukan keseimbangan antara identitasnya sebagai seorang manusia, seorang wanita, seorang Korea, dan seorang Mualaf.

“Saya mendapati diri saya lebih bebas sebagai seorang Korea daripada seorang Muslim,” keluhnya. “Namun, saya seorang manusia dan perasaan saya berubah.”

Ahmad Cho (48) bekerja sebagai agen pemasaran pada Talent Cosmetic, sebuah toko kosmetik halal Korsel yang mendapatkan sertifikasi dari Malaysia. Toko itu berada hampir di seberang Masjid Pusat Seoul.

Ia memeluk Islam pada 1990. Ia merupakan salah seorang dari 40 Muslim Korsel yang berangkat menunaikan ibadah Haji pada 2000.

“Saya menangis saat saya tiba di hadapan Ka’bah, di Mekkah,” ungkap Ahmad.

Emir Kim (28) berasal dari Incheon. Ia bekerja di pusat Islam Masjid Pusat Seoul.

Ia mengenal Islam dari teman-teman Turkinya saat perjalanan ke Cina pada 2010. Ia menemukan banyak hal penting dalam Islam.

“Rutinitas kehidupan Islam membuat saya tertarik pertama kalinya,” ungkap Emir. “Akan tetapi, sesungguhnya saya sangat mengapresiasi persamaan dan konsep persaudaraan Islam.”

Masyarakat Korsel merupakan penganut konghucu yang sangat konservatif. Aturan hierarki usia, menghormati yang lebih tua, merupakan yang terpenting.

Penerapan sehari-hari aturan itu tampak pada tata bahasa, menggunakan sistem kehormatan kompleks untuk menunjukkan hierarki usia serta tingkat keakraban dan kesopanan berbahasa di antara warga Korsel.

Bagi Emir, standar sosial seperti itu kerap menyusahkan. “Saya merasa lebih nyaman dengan saudara-saudara Muslim saya, terlepas dari usia, kebudayaan, atau latar belakang mereka.”

Mustafa Lee Dong Cho bekerja di suatu lokasi pembangunan di Arab Saudi pada Mei 1975, sebagai bagian dari gelombang pekerja Korsel yang dikirim untuk membangun Kerajaan Saudi pada 1970-an.

Ia memeluk Islam dan kembali ke Korsel pada 1981. Sejak saat itu, ia mengubah namanya secara resmi menjadi Mustafa.

Umar (Daesik) Choi merupakan salah seorang pemuda Muslim Korsel. Ia mempelajari bahasa Arab dan studi Islam di Arab Saudi. Ia berusaha menyebarkan kesadaran akan Islam di Korsel melalui media sosial.

Ia bekerja sama dengan organisasi pariwisata Seoul mempromosikan restoran-restoran ramah Muslim di Seoul; membuat rangkaian video berjudul “from Kebab to Kebab” di Youtube.

Ola Bora Song memeluk Islam pada 2007, tahun terjadinya krisis penyanderaan warga Korsel di Afghanistan, suatu titik balik hubungan Korsel dan Muslim.

Mulanya, Ola berjuang menemukan informasi yang akurat tentang Islam di internet.

Kini, ia bekerja di Masjid Seoul. Setiap hari ia memberikan kuliah kepada warga kristian Korsel dan orang-orang yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Islam.

Ola berusaha menjawab semua pertanyaan mereka untuk menghindari kesalahpahaman.

“Saya pernah menjadi nonmuslim dan saya mengerti kesalahpahaman mereka, sehingga saya ingin memberikan semua informasi yang mereka butuhkan untuk memahami apa sebenarnya Islam, yaitu satu agama yang damai dan menghormati.”

“Beberapa orang yang berprasangka tentang Islam akan datang menemui saya setelah kuliah dan mengatakan bagaimana menyesalnya mereka karena tidak tahu,” ungkap Ola.

Dengan lebih dari 140.000 pengikut di Instagram, Ola menjadi figur sensasional dan inspiratif bagi Muslim di Asia.

Di Korsel kecantikan tidak terpisahkan dengan masyarakat. Ola sering bereksperimen dengan penutup kepala. Ia memadukan dan memadankan hijabnya menjadi simbol identitas Korea dan Muslimnya.

Itaewon merupakan rumah bagi komunitas Muslim Korsel. Selain itu, ia menjadi lokasi markas militer Korsel dan Amerika Serikat.

Kaya akan budaya dan keragaman, area itu mengumpulkan orang-orang dari seluruh dunia yang datang untuk menikmati makanan Halal, baik masakan Korea maupun nonkorea.

Selain itu, Itaewon menjadi tempat berinteraksinya warga Korsel dengan Islam serta tujuan bagi orang-orang yang ingin mengunjungi Masjid Pusat Seoul.

Muslim di Korsel berjumlah sekitar 100.000 orang. Sebagian besar Muslim pendatang menetap di Itaewon. Mereka berasal dari Pakistan, Uzbekistan, Senegal, Turki, dan yang lainnya. (Pamungkas)

Sumber: Al Jazeera

Related posts