Tuesday, 21 January 2020

Kisah Muslim di Korea Selatan

Kisah Muslim di Korea Selatan

Masjid Pusat Seoul di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, dibangun pada 1974, dibuka pada 1976, dan direnovasi menjadi tiga tingkat pada 1991. (Radu Diaconu/Al Jazeera)

Seoul, Swamedium.com — Jumlah Muslim Korea Selatan mencapai 0,2 persen dari populasi penduduk. Penduduk Korsel berjumlah lebih dari 51 juta jiwa. Penganut kristianisme dan konghucu mendominasi negeri ginseng itu.

Tahun ini merupakan tahun kesepuluh setelah krisis penyanderaan warga Korsel di Afghanistan. Peristiwa itu adalah titik balik dalam sejarah Islam di Korsel.

Berbagai generasi pribumi Muslim Korsel merefleksikan identitas mereka, baik sebagai seorang Korea maupun sebagai seorang Muslim ketika Korsel membuka pintu bagi turis Muslim, berusaha menggantikan jumlah turis Cina yang makin berkurang.

Jumlah turis Muslim dari 2015 hingga 2016 meningkat 33 persen. Organisasi pariwisata Korsel (KTO) berharap jumlah turis Muslim yang mengunjungi Korsel hingga akhir 2017 mencapai 1,2 juta orang.

Dengan memanfaatkan potensi ekonomi melalui pariwisata, Korsel meningkatkan kuantitas sertifikat Halal bagi restoran dan tempat shalat.

Organisasi pariwisata Seoul mempromosikan rangkaian video yang menampilkan restoran ramah Muslim yang berada di seluruh Ibu Kota Korsel itu.

Islam dan Semenanjung Korea memiliki latar belakang sejarah yang memesona. Sejak era Jalur Sutra pada abad kesembilan hingga zaman modern yang serba terhubung, ikatan yang pernah terjalin melalui perjalanan maritim kini telah diteruskan kepada generasi baru Muslim muda Korsel. Mereka berusaha menemukan keseimbangan antara kebudayaan Korea mereka dengan Islam.

Melacak sejarah Islam di Korea dan pengenalan kembali Islam oleh pasukan Turki pada Perang Korea 1950–1953, Al Jazeera berbicara dengan beberapa orang dari generasi Muslim Korsel.

Mereka mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi dalam lingkungan masyarakat penganut konghucu Korsel yang didominasi oleh kelas-kelas sosial, hierarki usia, budaya minum minuman beralkohol, dan ketidakpercayaan terhadap Islam.

Imam A. Rahman Lee Ju-Hwa memeluk Islam pada 1984. Pada awalnya, sulit bagi sang imam untuk mengatakan kepada teman-temannya bahwa ia tidak dapat lagi berkumpul sambil makan daging panggang dan minum minuman beralkohol.

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts