Sabtu, 28 November 2020

Pengusaha Hotel Bantah Ramainya Bisnis Travel Sebabkan Mal Sepi

Pengusaha Hotel Bantah Ramainya Bisnis Travel Sebabkan Mal Sepi

Foto Kunjungan wisatawan lokal di tempat tempat wisata tidak mengalami kenaikan yang tinggi. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan pola konsumsi masyarakat mulai bergeser ke arah hiburan dan liburan. Orang sekarang disebut lebih menyukai jalan-jalan daripada berbelanja, sehingga berdampak pada lesunya bisnis di sektor ritel dan sepinya pusat perbelanjaan. Benarkah demikian?

Selain BPS, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro juga berpendapat bahwa adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sebelumnya belanja barang mulai beralih ke belanja jasa. Hal ini yang kemudian sedikit mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi pada 2017.

“Jadi kalau dulu orang belanja ramai-ramai satu keluarga ke supermarket atau pusat perbelanjaan yang besar, kini beralih ke belanja jasa, ke sektor transportasi dan perhotelan, jadi banyak jalan-jalan,” ungkap Bambang di awal pecan ini yang dirilis Liputan6.com.

Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, Bambang memaparkan, masyarakat kini lebih memilih belanja di minimarket yang lokasinya dekat dengan tempat tinggalnya. Hal ini juga tidak terlepas kondisi lalu lintas di kota-kota besar yang kini macet.Tidak hanya itu, gencarnya pemerintah dalam mempromosikan berbagai lokasi wisata di Indonesia juga mulai membuka mata masyarakat di Indonesia untuk berwisata.

Namun Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi Soekamdani membantah pernyataan-pernyataan tersebut. Menurutnya, tidak ada lonjakan pengunjung baik dari kamar hotel maupun taman rekreasi yang ditemukan.

“Kami tidak menemukan terjadi shifting ke hotel, dan kami juga tanya ke teman-teman, taman rekreasi juga tidak lihat lonjakan signifikan, juga di teman-teman travel agent yang kelola outbond (tidak terjadi lonjakan),” ujarnya di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, pertumbuhan hotel dan tempat rekreasi lainnya saat ini masih terbilang normal. Bahkan secara keseluruhan, pertumbuhannya hanya 5-10%.

“Tamu lokal itu enggak terlihat. Normal-normal saja ya, kenaikannya itu paling over all antara 5-10%. Kalau ada shifting itu kan semua ya, ini enggak,” jelasnya.

Itupun lanjut Hariyadi, peningkatan jumlah pengunjung hotel bukanlah dari shifting masyarakat menuju leasure. Menurutnya pertumbuhan hotel lebih dipengaruhi adanya musim liburan.

“Kemarin saja ramai semester pertama karena banyak libur ya. Tapi yang melonjak itu hanya liburan hari kejepit yang pertama ya. Kan libur kejepit itu kan beberapa kali tuh. Kejepit berikutnya biasa saja,” ucapnya.(*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.