Selasa, 01 Desember 2020

Anggaran Defisit, Menhub Gandeng Swasta Kembangkan Bandara

Anggaran Defisit, Menhub Gandeng Swasta Kembangkan Bandara

Foto. Lembaga riset ekonomi INDEF bantah klaim gencarnya pembangunan infrastruktur pemerintah . (nael)

Jakarta, Swamedium.com – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengidentifikasi setidaknya ada 20 proyek pelabuhan dan 10 bandara yang siap ditawarkan ke swasta. Kemenhub hanya menawarkan kerja sama terbatas antara 10-30 tahun atau tidak ada pelepasan saham kepada pihak ketiga. Ini dilakukan karena anggaran defisit.

“Jika prospeknya bagus, kita lakukan kerjasama terbatas, bukan tidak terbatas, antara 10-30 tahun.” Jelas Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, yang dirilis Tempo, di akhir pekan ini.

Sejumlah proyek bandara yang dimaksud seperti Bandara Labuan Bajo, Raden Inten, Tarakan, Sabang, Tanjung Pandan, Luwuk, Sibolga, hingga Banyuwangi. Beberapa proyek pelabuhan pun akan ditawarkan, seperti Pelabuhan Bima, Waingapu, Kalabahi, Ende, Lembar, Manokwari, Ternate, Kendari, Biak, Fakfak, Sorong, sampai Merauke.

Budi juga membantah kabar penjualan Bandara Soekarno-Hatta yang sempat viral di media sosial. Menurut Budi, pemerintah hanya merencanakan pengembangan bandara tersebut bersama pihak swasta.

“Jelas kita tidak ada niat menjual Bandara Soetta. Apa yang kita lakukan malah lebih banyak melakukan kerja sama dengan pihak swasta,” kata Budi.

Kolaborasi dengan swasta sendiri menjadi salah inovasi pemerintah untuk menutupi kekurangan pembiayaan infrastruktur nasional. Pembiayaan tersebut, saat ini tidak hanya bergantung anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) saja, namun juga lewat penugasan ke badan usaha milik negara, serta kerja sama dengan swasta.

Budi menjelaskan, adanya defisit anggaran dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Dari kebutuhan Rp 1500 triliun untuk belanja infrastruktur, kata dia, hanya tersedia Rp 250-500 triliun di APBN. “Sehingga ada gap (jarak) sekitar Rp 1000 triliun.” tutur dia.

Hal itu mendorong pemerintah untuk menawarkan sejumlah proyek strategis pada swasta. Namun, Budi menegaskan pihaknya hanya menawarkan proyek yang jelas dan menjanjikan untuk dikelola.

“Kita mengenal tiga klasifikasi, apabila proyek itu tidak visible harus dilakukan kementerian bersangkutan. Kalau visible, diberi ke badan usaha atau swasta,” tuturnya.

Dari hasil pilahan Kemenhub, kata Budi, ada setidaknya 20 proyek pelabuhan dan 10 bandara yang siap ditawarkan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan, kerja sama dengan swasta sudah lazim dilakukan di negara lain. Terbatasnya anggaran, menurut dia tak menghambat pembangunan infrastruktur.

“Public Private Partnership seperti itu, memungkinkan untuk menarik swasta bekerja sama,” kata Robert.
Seperti diketahui, Bandara Soekarno-Hatta merupakan bandara tersibuk di Indonesia dengan jumlah penumpang sampai 60 juta orang per tahun. (*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.