Sabtu, 28 November 2020

Sebut Seruan Takbir Indikator Teroris, Polisi Diminta Sekolah Lagi

Sebut Seruan Takbir Indikator Teroris, Polisi Diminta Sekolah Lagi

Foto: pakar hukum viktimologi dan terorisme Universitas Indonesia (UI), Heru Sesetyo

Jakarta, Swamedium.com – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) diminta untuk kembali memberikan pendidikan kepada personilnya. Terutama pendidikan mengenai terorisme dan agama, menyusul keterangan Kapolres Dharmasraya AKBP Roedy Yoelianto yang mengatakan seruan membesarkan nama Tuhan atau takbir (Allahu Akbar) sebagai salah satu indikator teroris.

“Jelas (perlu sekolah pendidikan-red),” ujar pakar hukum viktimologi dan terorisme Universitas Indonesia (UI), Heru Sesetyo, dalam rilisnya yang diterima Swamedium.com (18/11).

Menurutnya, pendidikan tersebut diberikan agar polisi berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan ke publik. Serta menjadi pelajarn agar tidak mengulanginya kembali.

“Hati-hati dalam membuat statement. Berteriak jihad dan takbir saja tak otomatis terrorist, dan tidak semua yang berpikiran radikal lantas jadi teroris‎,” jelasnya.

Lebih lanjut Heru mengatakan, seharusnya polisi fokus pada penyelidikan dan penyidikan yang pro justitia atau untuk/demi hukum atau Undang-Undang (UU).

“Jadi jangan membuat opini dan stigma sendiri,” katanya.

Dihubungi terpisah, pengamat terorisme Univesitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Robi Sugara, sependapat dengan pernyataan Heru Susetyo bahwa polisi harus di sekolahkan lagi‎. Pasalnya, Kapolres Dharmasraya itu sudah offiside membuat seruan seperti itu.

“Takbir dibajak oleh sekelompok orang untuk melakukan aksi terorisme atau kekerasan sehingga pemaknaanya dianggap menjadi negatif. Padahal takbir itu kalimat suci ,” kata Robi Sugara.

Sebelumnya Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Rikwanto, mengakui pernyataan berupa seruan Kapolres Dharmasraya ini menimbulkan keresahan dan kemarahan di masyarakat terutama umat muslim di Indonesia bahkan dunia.

Rikwanto juga mengakui bahwa seruan takbir tidak selalu menjadi indikatorkan maupun identik dengan teroris. Sebab itu, kata dia, pihaknya segera meluruskan pernyataan Kapolres Dharmasraya itu.

“Ya memang itu perlu diluruskan. Kapolres maksudnya bukan begitu. Dia hanya menyampaikan fakta yang terjadi. Pertanyaannya yang menjebak. Nanti kita luruskan,” kata Rikwanto, saat dikonfirmasi law-justice.co, Kamis (16/11/2017).

Terkait apakah Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian akan memecat atau memutasi Kapolres Dharmasraya, Rikwanto mengatakan tidak. “Nggak sampai sejauh itu,” pungkasnya. (Dng)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.