Minggu, 29 November 2020

Pemerintah Disebut Mundur Dalam Kebijakan Subsidi BBM

Pemerintah Disebut Mundur Dalam Kebijakan Subsidi BBM

Foto. Pertamina yakin keuangannya aman meski pemerintah memutuskan harga BBM tidak naik. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Program harga Bahan Bakar Minyak (BBM) solar subsidi dan premium penugasan dari Pemerintahan Jokowi-JK dinilai sebagai kemunduran dalam kebijakan membenahi tataniaga BBM. Dampaknya, beban keuangan Pertamina semakin berat karena harga minyak dunia terus merangkak naik.

Seperti diketahui, upaya menghilangkan subsidi BBM itu sudah dirintis secara bertahap sejak era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Puncaknya dua tahun lalu, pemerintah sudah tidak memberikan subsidi BBM karena harganya sudah mengikuti fluktuasi harga BBM di pasaran dunia. Namun upaya tersebut menjadi berantakan lagi setelah Presiden Jokowi membuat program BBM Penugasan.

Pengamat Energi Pri Agung Rakhmanto menilai, pemerintah mengalami kemunduran dalam hal subsidi BBM. Pasalnya, dua tahun lalu beban subsidi telah terlepas karena harga BBM bersubsidi menyesuaikan kondisi harga pasar.

“Kita berkutat ke subsidi lagi. Sebelumnya, 2 tahun ini sudah terlepas, tatakelola mundur lagi,” kata Pri Agung di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (18/11) sebagaimana dirilis Liputan6.com.

Menurut Pri Agung, semakin ditahannya harga BBM bersubsidi dengan tidak menyesuaikan dengan harga minyak dunia‎, membuat beban pemerintah semakin berat.

“Pertamina terbebani. Kalau dulu dijalankan konsisten ada kenaikan tidak besar, tapi sekarang terlalu besar,” tutur dia.

Pri Agung memprediksi, pemerintah akan semakin berat menyesuaikan harga BBM bersubsidi kedepannya jika harga minyak dunia terus naik. Apalagi tahun depan sudah memasuki tahun politik.

‎”Ini political will. Sekarang pemerintah agak kehilangan momentum, kalau 2018 bisa lebih berat lagi,” paparnya.

Seperti diketahui, PT Pertamina (Persero) kehilangan potensi pendapatan sebesar US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 19 triliun hingga kuartal III 2017. Penyebabnya kenaikan harga minyak dunia yang tidak diimbangi dengan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi penugasan dari pemerintah.

Direktur Pemasaran Pertamina M Iskandar mengakui, ‎keputusan pemerintah tidak mengubah harga tiga jenis BBM tersebut memang berdampak pada Pertamina, lantaran harga premium penugasan dan solar bersubsidi yang ditetapkan sudah jauh lebih rendah di bawah harga keekonomian.

“Sekarang keekonomian premium di atas Rp 7 ribu per liter, solar Rp 7.200 per liter. Didorong subsidi Rp 500 per liter jadi solar sekarang (harga sebenarnya) Rp 6.700 per liter,” kata Iskandar saat menerima keputusan BBM penugasan dari pemerintah pada medio Juni.

Iskandar menuturkan, Pertamina menerima keputusan pemerintah, meski badan usaha yang bertugas menyalurkan BBM penugasan dan bersubsidi tersebut, menanggung selisih antara harga keekonomian dengan harga yang ditetapkan pemerintah.

‎”Itu dampaknya kami harus jual di bawah keekonomian. Sekarang yang menanggung selisihnya masih Pertamina‎,” ungkap Iskandar..(*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.