Selasa, 24 November 2020

Rakyat Kecil Resah, Gas Elpiji Melon Langka di Sejumlah Daerah

Jakarta, Swamedium.com – Kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg) atau biasa disebut gas melon terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya di Semarang, Jawa Tengah dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Masyarakat mulai kesulitan mendapatkan tabung gas di agen penjualan atau pangkalan gas.

Di Semarang, Jawa Tengah, para ibu harus berkeliling ke warung-warung untuk mencari gas elpiji melon agar asap dapur bisa mengepul.

“Ini sejak tadi sudah lima warung yang biasa menjual elpiji semua kosong. Entah itu pengecer atau pangkalan sampai pom bensin kelihatannya juga kosong,” ujar Enih Nurhaeni, Minggu (19/11) yang dirilis laman Okezone.com.

Warga Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik itu pun terpaksa pulang dengan tangan hampa karena tidak menemukan gas elpiji yang dicari. Dia hanya menitipkan tabung gas kosong kepada pengecer, serta dijanjikan pekan depan bisa mendapatkan gas elpiji melon.

“Ya gimana lagi, daripada nanti tidak mendapatkan, lebih baik titip dulu saja. Bahasa kerennya sekarang kalau mau beli gas harus inden dulu. Dijanjikan Selasa pekan depan, itu pun hanya satu tabung,” jelasnya.

Kelangkaan gas elpiji melon menjadi perbincangan hangat ibu-ibu yang sedang berbyelanja sayuran. Keluhan mereka sama, yakni sulitnya mendapatkan gas ukuran 3 kg. Mereka menduga gas elpiji melon akan segera diganti dengan jenis Bright ukuran 5,5 kg.

“Kabarnya memang begitu diganti yang 5,5 kg. Padahal itu kan mahal, sulit kejangkau masyarakat. Di tempat saya Bandungan juga sama sulitnya. Malah ada pedagang yang enggak mau jual jika pembeli tidak biasa beli gas di situ,” ujar pedagang sayuran asal Bandungan Kabupaten Semarang.

Mereka menambahkan, harga gas elpiji melon di pasaran berkisar Rp18.000 hingga Rp21.000 per tabung. Harga tersebut jauh di atas dari harga yang dipatok Pertamina yakni Rp15.500 per tabung.

“Kalau harga tidak ada yang Rp15.500. Paling rendah Rp17.000 per tabung. Tapi ya itu di pasaran enggak ada, sulit. Seperti musiman, pas ada kadang banyak. Lha sekarang ini susahnya minta ampun,” tutur pedagang sayuran itu yang diamini ibu-ibu.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Pertamina melalui Pjs Area Manager Communication & Relations Sulawesi Kristanti Gondokusumo mengatakan, pasokan tabung LPG dari Pertamina masih normal seperti biasanya. Hanya saja, menurut dia, pasokan terganggu akibat banyaknya masyarakat yang menggunakan gas elpiji 3 kg tidak pada peruntukannya.

“Tujuan elpiji 3 kg itu kan untuk memasak bagi masyarakat kalangan kurang mampu. Tapi kenyataannya banyak yang berubah fungsi. Ada yang pakai usaha restoran bahkan hingga laundry,” kata Kristanti pada pertemuan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Makassar, seperti dilaporkan tribunnews, Makassar. (*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.