Senin, 23 November 2020

Luncurkan Buku ‘Diary 212’, Pembicara Kritisi Reuni Akbar Alumni 212

Luncurkan Buku ‘Diary 212’, Pembicara Kritisi Reuni Akbar Alumni 212

Foto: Peluncuran buku 'Diary 212'. (Dok. Forjim)

Jakarta, Swamedium.com – Reuni Akbar yang rencananya digelar oleh para Alumni 212 dinilai harus memiliki konteks dan tujuan yang jelas. Jangan sampai momen bersejarah bagi umat Islam dan bangsa Indonesia itu hanya menjadi obyek wisata.

Demikian disampaikan para pembicara Diskusi Buku Diary 212, menanggapi seruan Ketua Presidium Alumni (PA) 212, Slamet Ma’arif, untuk mengikuti Reuni Akbar 212 di Lapangan Monas (Monumen Nasional) Jakarta Pusat pada 2 Desember 2017 mendatang.

Diskusi Buku Diary 212 yang diselenggarakan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Abrar dan LPPDI Thoriquna, itu berlangsung pada Ahad (19/11) di Masjid Al Abrar, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Tampil sebagai pembicara adalah Penyusun Buku Diary 212, Nurbowo, Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah, Korps Mubaligh Jakarta, Edy Mulyadi, Pembina LPPDI Thoriquna, Mukhlis dan Slamet Ma’arif sebagai keynote speaker.

Nurbowo, penyusun buku Diary 212, mengungkapkan harapannya, reuni akbar Alumni 212 nanti bisa dihadiri banyak umat Islam.

“Jika Reuni Akbar 212 hanya bermaksud ‘show of force’ maka jumlah peserta minimal sama dengan peserta Aksi Bela Islam 212 sebanyak sekitar 7,5 juta orang. Syukur-syukur bisa dilempengin jadi 10 juta peserta, sehingga shaf terdepan di Monas, terbelakang di Blok M. Kalau kurang dari itu malah jadi blunder,’’ ujar Nurbowo.

Sementara Ma’arif mengemukakan, paska Aksi Bela Islam 212 rezim menerapkan Islamophobia-policies. Reuni Akbar, ungkap Ma’arif, akan didahului dengan Kongres Nasional Alumni 212 pada 30 November-1 Desember 2017.

“Kriminalisasi ulama dan aktivis Islam, belah bambu ormas Islam, stigmatisasi anti-Pancasila dan Kebhinekaan,’’ tutur Ma’arif sembari menyebutkan deretan kebijakan anti-Islam.

Di sisi lain, menurut Mukhlis, untuk menghadapi kondisi tersebut, umat dan gerakan Islam harus menata tiga hal.

“Pertama, kita harus membersihkan hati kita dari penyakit. Kedua, kita harus menyempurnakan amal kita, seperti shalat wajib berjamaah di masjid. Dan ketiga, kita jangan berpecah belah karena organisasi,’’ tutur Pembina Thoriquna itu.

Mukhlis mengapresiasi munculnya Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS) yang dirintis KH M Al Khaththath. Namun, GISS jangan berhenti membawa jamaah ke masjid. Karena itu, Mukhlis menyerukan gerakan ‘Minal Masjid ilal Jihad’. Maknanya, masjid harus difungsikan sebagai basis perjuangan dan jihad di segala bidang.

Sementara itu, Edy Mulyadi mengingatkan bahwa Aksi Bela Islam 212 memiliki tujuan yang jelas, karena itu, reuni akbar Alumni 212 pun harus memiliki hal yang sama.

“Aksi Bela Islam 212 tahun 2016 tujuannya jelas, yaitu menuntut penista agama dihukum sesuai dengan hukum positif yang berlaku sebagaimana telah dihukum para penista agama sebelumnya seperti Permadi, Lia Eden, Ahmad Musadeq, dan lain-lain,’’ tutur Edy Mulyadi yang juga mantan wartawan media nasional.

Selain itu, Edy menandaskan bahwa perjuangan Islam harus berupaya meraih kekuasaan. Sebab, dengan kekuasaanlah, ajaran kebenaran dan kebaikan bisa efektif ditegakkan.

“Alexis itu dulu berkali-kali didemo, tapi tidak pernah tutup. Tapi cukup dengan selembar surat berkop Pemprov DKI yang menolak perpanjangan ijinnya, Alexis langsung tutup,’’ tegas Edy mencontohkan efektivitas kekuasaan untuk nahi munkar. (*/ls)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.