Jumat, 27 November 2020

Sama-Sama Minum Kopi, tetapi Lain Seusainya

Sama-Sama Minum Kopi, tetapi Lain Seusainya

Jakarta, Swamedium.com — Mengapa sebagian orang dapat menikmati secangkir kopi sesaat sebelum ke pembaringan dan tidur dengan nyaman, sementara yang lainnya tetap terjaga hingga berjam-jam?

Suatu penelitian terbaru menunjukkan bahwa gen mungkin jawaban atas pertanyaan tersebut.

“Setiap dari kita dapat memiliki kemampuan berbeda dalam merespons kafeina (alkaloid yang terdapat dalam biji kopi dan daun teh); dan perbedaan itu mungkin dapat terjadi pula terhadap zat-zat, selain kafeina,” kata Marilyn Cornelis, penulis penelitian tersebut.

Marilyn merupakan seorang asisten profesor di departemen profilaksis (pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit) Universitas Feinberg, Chicago, Amerika Serikat.

Dalam penelitian sebelumnya, Marilyn menghubungkan berbagai variasi gen dengan pola konsumsi kopi. Sedangkan dalam penelitian terbarunya, ia mencari hubungan antara variasi-variasi gen itu dengan unsur-unsur kimia yang muncul dalam darah seseorang setelah mengonsumsi kafeina.

Marilyn menemukan bahwa varian-varian gen yang terhubung dengan sedikit unsur-unsur kimia kafeina–yang menunjukkan metabolisme kafeina yang cepat–ialah varian-varian sama yang terhubung dengan tingkat konsumsi kopi yang tinggi sebelumnya.

Orang-orang dengan metabolisme kafeina yang cepat mendapatkan manfaat dari konsumsi kopi, antara lain antioksidan dan polifenol, bahkan hanya sedikit terpengaruh oleh efek samping kafeina.

Mereka pun dapat menyesap beberapa cangkir kopi sekalipun, lalu dengan mudah lelap semalam suntuk.

Sedangkan bagi yang bermetabolisme kafeina yang lambat, meminum secangkir kopi saja sudah terpengaruh.

Parahnya, mereka berisiko menderita tekanan darah tinggi. Hal itu diperburuk dengan ketergantungan kafeina dari kopi.

Perbedaan metabolisme demikian salah satunya dipengaruhi oleh perbedaan gen Cytochrome P450 1A2 (CyP1A2).

Ahmed El-Sohemy, profesor ilmu gizi di Universitas Toronto, Kanada, meneliti hubungan gen CyP1A2 dengan kafeina.

Prof. Ahmed mendapati bahwa orang-orang yang mewarisi dua gen “cepat” CyP1A2 dapat mengurai kafeina sekitar empat kali lebih cepat daripada orang-orang pewaris dua gen “lambat” CyP1A2.

Menurut Marilyn, perbedaan gen CyP1A2 tersebut bukanlah satu-satunya faktor penentu perbedaan masing-masing pengonsumsi kopi tersebut.

Tim Marilyn pun berpendapat, suatu gen dapat terhubung, baik dengan metabolisme kafeina, metabolisme glukosa (zat gula sederhana yang banyak terdapat di dalam tumbuhan dan hewan), atau pun metabolisme lipid (zat lemak yang tidak larut dalam air, tetapi umumnya larut dalam alkohol dan eter).

Marilyn menggarisbawahi, “penelitian ini menekankan kembali gagasan bahwa tidak semua orang sama dalam merespons secangkir kopi atau minuman berkafeina yang lainnya.”

Temuan penelitian itu berdasarkan suatu analisis terhadap unsur-unsur kimia kafeina dan gen-gen dalam hampir 10.000 orang turunan Eropa.

Penelitian tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Human Molecular Genetics. (*/Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.