Sabtu, 28 November 2020

Ekonom Nilai Pembentukan ‘Holding’ BUMN Tambang Tidak Tepat

Ekonom Nilai Pembentukan ‘Holding’ BUMN Tambang Tidak Tepat

Foto. Ekonom UGM A Tony Prasentyoko tidak setuju dengan rencana pembentukan holding BUMN tambang. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Ekonom dari Universitas Gajah Mada (UGM) A Tony Prasetiantono minta pemerintah mengkaji dengan matang rencananya membentuk induk usaha (holding) pertambangan. Pembentukan holding saat ini dinilainya tidak tepat, bahkan bisa memicu permasalahan baru dari sisi manajemen.

Tony yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM ini mengatakan, pembentukan holding tambang tidak akan efektif bila tujuannya untuk meningkatkan efisiensi kinerja BUMN pertambangan.

Menurutnya, pembentukan holding justru akan memicu permasalahan baru dari sisi manajemen.

“Untuk meningkatkan efesiensi manajemen BUMN tambang itu lebih tepat jika di merger, bukan holding. Ini karena holding (sebetulnya) hanya transisi,” ujar Tony di Jakarta, Senin, (20/11) yang dirilis kompas.

Seperti diketahui, pembentukan holding pertambangan akan melibatkan tiga perusahaan tambang pelat merah yakni PT Bukit Asam (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk, dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Sedangkan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang ditunjuk sebagai induk usahanya.

Bukit Asam, Timah dan Antam akan serentak menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 29 November untuk meminta persetujuan pemegang saham terkait rencana tersebut.

Menurut Tony, dalam pelaksanaan merger diperlukan suasana yang kondusif anatar BUMN pertambangan agak dapat mencapai misi yang diinginkan.

“Dengan merger maka jumlah direksi dan komisaris serta karyawan bisa dikurangi. Cuma kalau merger pasti ada gejolak, karena akan ada pengurangan direksi dan karyawan. Merger itu butuh situasi yang kondusif dan saya lihat waktunya kurang tepat saat ini,” ungkap Tony.

Sementara itu, Tony berharap agar rencana pembentukan holding BUMN pertambangan dilakukan kajian yang matang, sebab, jika melihat holding yang telah dibentuk yakni perkebunan dan semen memiliki ketidakefektifan dari implementasi holding tersebut.

“Coba lihat, holding semen juga tidak efektif karena mereka (anak usaha Semen Indonesia) masih bawa entitas masing masing dan membawa budaya organisasi masing-masing. Jadi holding itu sekarang hanya forum rapat saja,” pungkas Tony.(*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.