Selasa, 24 November 2020

Tahun 2018, Perekonomian Indonesia Diprediksi Masih Lesu

Tahun 2018, Perekonomian Indonesia Diprediksi Masih Lesu

Foto. Perekonomian Indonesia di tahun depan diprediksi masih lesu, beban hidup makin bertambah. (nael/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com – Kelesuan ekonomi diprediksi masih akan berlanjut tahun depan. Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada, A. Tony Prasentiantono memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan masih tumbuh stagnan di level 5%.

“Perekonomian Indonesia masih tumbuh pada kisaran 5% karena kelesuan ekonomi sebagai dampak ketidakpastian serta agresitivitas pajak yang menyebabkan konsumen cenderung mengerem konsumsi,” kata Tony dalam seminar bertajuk ‘Sailing Thourgh Economic and Political Tide’ di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, di awal pekan ini.

Tony memprediksi ekonomi Indonesia tahun depan hanya akan tumbuh sampai 5,3%. Alasannya beberapa indikator seperti stabilitas harga komoditas, stabilitas nilai tukar rupiah, peningkatan investasi, capital inflows dan inflasi yang tetap rendah.

“Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari 5,3% belum memungkinkan karena faktor VUCA (Volatility, Uncertainty, Compexity dan Uncertainly) yang cukup kuat,” jelasnya.

Namun Tony memprediksi, pertumbuhan ekonomi di lndonesia masih bisa meningkat ke level 6-7% di kemudian hari. Apalagi saat ini pemerintah tengah giat membangun infrastruktur yang dampaknya baru dapat dirasakan jangka panjang.

“Perkembangan nilai lndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini juga menunjukan optimisme pasar terhadap prospek perekonomian Indonesia,” ujar dia.

Ekonom yang juga mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, mengingatkan, perekonomian Indonesia tak cukup ditopang dengan angka pertumbuhan stagnan di kisaran 5%.

Alasan Chatib, akan menimbulkan beban fiskal, setelah berkurangnya produktivitas masyarakat dan masih rendahnya pendapatan per kapita.

Pada 2016, lanjut Chatib, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02%. Pada 2017, target pertumbuhan ekonomi ditetapkan 5,2%. Secara umum, yang bisa turut menyumbang angka pertumbuhan ekonomi itu adalah konsumsi dalam negeri, dan belanja modal serta pembangunan pemerintah.(*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.