Sabtu, 28 November 2020

Hakim PBB Memvonis Jenderal Pembantai Muslim Bosnia

Hakim PBB Memvonis Jenderal Pembantai Muslim Bosnia

Ratko Mladić (74) menghadiri sidang di pengadilan pidana internasional eks Yugoslavia (ICTY) di Den Haag, Belanda, Rabu (22/11). (Peter Dejong/Reuters)

Den Haag, Swamedium.com — Para hakim Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memvonis Ratko Mladić (74) atas pembantaian terburuk sejak holokaus.

Hakim-hakim kejahatan perang PBB di Den Haag memvonis Ratko hukuman penjara seumur hidup pada Rabu (22/11) atas kejahatan perang yang dilakukannya lebih dari 20 tahun yang lalu.

Ratko dijuluki sebagai “pembantai orang Bosnia”. Ia didakwa atas 11 dakwaan, termasuk genosida, kejahatan perang, dan kejahatan kemanusiaan selama perang di Bosnia pada 1992 dan 1995.

Satu dari dua genosida yang ia lakukan ialah pengepungan Ibu Kota Bosnia dan Herzegovina, Sarajevo. Pasukannya mengelilingi kota selama 46 bulan. Mereka menembaki dan menggranat warga sipil untuk menyebarkan teror kepada warga.

Dengan rata-rata 330 granat yang dilemparkan ke Kota per harinya, lebih dari 10.000 orang tewas dalam pengepungan terlama terhadap suatu ibu kota negara dalam sejarah modern.

Genosida kedua ialah pembantaian lebih dari 8.000 Muslim (pria dewasa dan anak laki-laki) di Kota Srebrenica, yang dinyatakan sebagai “tempat yang aman” oleh PBB pada saat itu. Peristiwa kelam itu merupakan genosida terburuk di daratan Eropa sejak holokaus.

“Sebelum hari suci Serbia Raya, kami memberikan kota ini kepada bangsa Serbia,” kata Ratko di depan kamera dalam rekaman video di Srebrenica pada 11 Juli 1995. “Setelah pemberontakan terhadap bangsa Turki, akhirnya tiba waktunya untuk membalas dendam kepada bangsa Turki (Muslim) di area ini.”

Rekaman percakapan antara Ratko dan seorang kolonel artileri Serbia di Sarajevo telah dipublikasikan. “Serang [Distrik] Velešići dan [Distrik] Pofalići,” perintah Ratko. “Tidak banyak orang Serbia di sana. Serang mereka dengan granat, sehingga mereka tidak dapat tidur. Buat mereka kehilangan pikiran.”

Ratusan Ribu Korban Tewas
Ratko dikecam atas pembersihan Muslim Bosnia dan penduduk Kroasia asal Bosnia untuk mendirikan Serbia Raya serta dikecam atas penyanderaan terhadap para penjaga perdamaian PBB.

Sekitar 100.000 hingga 200.000 orang tewas selama perang di Bosnia. Sebanyak 50.000 wanita diperkosa.

Para jaksa kejahatan perang dari pengadilan pidana internasional eks Yugoslavia (ICTY) menggugat Ratko sebagai tokoh utama dalam pembersihan etnik di Bosnia dan menuntut hukuman penjara seumur hidup untuknya.

Mereka mengatakan, Ratko beserta Slobodan Milošević (mantan presiden Serbia dan Federal Yugoslavia) dan Radovan Karadžić (mantan politikus Bosnia dan psikiater etnik Serbia) merupakan tokoh kunci yang mendalangi “proyek kejahatan bersama” untuk mendirikan Serbia Raya.

Setelah 530 hari sidang, hampir 600 saksi dan hampir 10.000 barang bukti dihadirkan, pengadilan dengan terdakwa Ratko Mladic merupakan salah satu yang utama sejak ICTY berdiri pada 1993.

Ratko: Berbagai Dakwaan Itu Menjijikkan
Ratko ditangkap di suatu desa di Serbia bagian utara pada Mei 2011 setelah 16 tahun bersembunyi.

Kondisi kesehatannya memburuk pada saat itu, salah satu lengan tangannya diamputasi karena rangkaian strok.

Ia menolak berbagai dakwaan terhadapnya, bahkan menyebutnya “menjijikkan” dan “menyeramkan”.

Pada sidang pertamanya enam tahun lalu, Ratko memelototi seorang saksi, Munira Subašić, seorang wanita yang kehilangan 22 anggota keluarga dalam serangan di Srebrenica, sambil berisyarat dengan gerakan menggorok leher.

“Saya melindungi rakyat saya, negara saya … sekarang saya melindungi diri saya sendiri,” kata Ratko kepada majelis hakim pada sidang pertamanya itu.

Pada sidang kedua, Ratko ditarik ke luar ruangan karena berkali-kali menyela pembicaraan hakim dan berusaha berkomunikasi dengan hadirin yang lain.

Slobodan tidak sempat mendengarkan vonis untuknya karena ia meninggal pada 2006 setelah menderita serangan jantung ketika berada di sel tahanan di Den Haag.

Pada 2016, Radovan (72) dinyatakan bersalah atas genosida di Srebrenica dan sembilan dakwaan yang lainnya. Ia divonis hukuman penjara selama 40 tahun.

Hakim Alphons Orie memutuskan bahwa para pelaku kejahatan yang dilakukan di Srebrenica bermaksud membantai Muslim yang berada di sana.

“Kejahatan yang dilakukannya itu merupakan salah satu di antara yang paling kejam yang diketahui oleh umat manusia,” kata Alphons.

Ratko awalnya tampak tenang saat mendengarkan dengan saksama putusan hakim tersebut.

Lalu, ia ditarik ke luar ruangan sidang setelah ia meneriaki majelis hakim.

Pengacaranya mengatakan bahwa Ratko perlu istirahat untuk perawatan atas tekanan darah tinggi, tetapi hakim tetap membacakan putusan setelah kliennya itu ditarik ke luar.

Putusan itu telah dinanti begitu lama oleh puluhan ribu korban di seluruh wilayah eks Yugoslavia. Belasan orang berkumpul lebih awal di luar gedung. Sebagian besar membawa foto orang-orang terkasih yang tewas atau yang hilang di antara 7.000 orang yang masih belum ditemukan.

Mewakili asosiasi orang tua anak-anak yang dibunuh saat pengepungan Sarajevo, Fikret Grabovica mengatakan kepada Al Jazeera, “tiada hukuman yang benar-benar sepadan dengan apa yang telah (Ratko) Mladic lakukan.”

“Namun, kita dapat cukup puas dengan putusan ini. Begitu berarti bahwa ia (Ratko) mendapatkan hukuman penjara seumur hidup … Apa yang membuat saya cukup senang ialah dakwaan menyatakan peneroran dan penembakan terhadap warga sipil Sarajevo, yang menewaskan 1.600 anak-anak,” ungkap Fikret.

Munir Habibović, seorang warga Srebrenica, mengatakan ia puas dengan hukuman terhadap Ratko.

Akan tetapi, ia sepakat bahwa Ratko harus dinyatakan bersalah juga atas genosida di enam kota yang lainnya.

Meskipun telah membuktikan para pemimpin Serbia-Bosnia bersalah atas genosida di Srebrenica, ICTY masih gagal dalam menegakkan keadilan bagi para korban perang menurut Marko Attila Hoare, seorang sejarawan dari Universitas Kingston, London, Inggris.

“Jumlah pelaku yang dihukum dan hukuman yang mereka dapatkan itu tidak memuaskan. Banyak pelaku kejahatan perang, mereka tidak didakwa atau dituntut; atau jika mereka dituntut, hukuman penjara bagi mereka sangat pendek. Banyak dari mereka sudah keluar, contohnya seperti Biljana Plavšić. Anda tidak dapat menyebut ini keadilan,” ungkap Marko kepada Al Jazeera.

Biljana (87), mantan presiden Republika Srpska (satu dari tiga entitas politik di Bosnia dan Herzegovina), dihukum penjara selama 11 tahun pada 2003, namun ia dibebaskan enam tahun kemudian karena sudah menjalani 2/3 masa tahanannya.

Seorang politikus Bosnia etnik Serbia yang lainnya, Momčilo Krajišnik, dibebaskan pada 2013 setelah menjalani 2/3 hukuman penjara 20 tahun atas kejahatan perang.

Bahkan, ia disambut sebagai pahlawan nasional di kota kelahirannya, Pale, sekitar 18 km sebelah timur Sarajevo. Ribuan orang menyanyikan lagu-lagu nasionalis dan mengibarkan bendera ketika Momčilo berpidato di alun-alun Kota.

Prijedor dan Kecemasan yang Lain
“Kami sedih dan kecewa karena (Ratko) Mladić tidak dinyatakan bertanggung jawab atas genosida di Prijedor dan di lima kota lain yang telah terdaftar,” ungkap Sejida Karabašić dari Prijedor.

“3.176 orang [yang dibunuh] di Prijedor tidak cukup membuktikan adanya pembunuhan massal di sana. Jadi, harus lebih dari 10.000 dari kita dibunuh untuk membuktikan bahwa genosida terjadi di sana,” tegas Sejida.

“Terdapat pemerkosaan massal, pembunuhan massal, perkemahan konsentrasi. Mereka menemukan kuburan massal terbesar di region Prijedor, tiada satu pun dari semua itu yang cukup menjadi bukti suatu genosida.”

Tiga puluh anggota keluarga Fikret Bašić (50) tewas dibunuh dalam perang. Pria yang berasal dari Prijedor itu masih belum dapat menemukan tulang-tulang anak-anaknya.

Bertahun-tahun ia mengampanyekan agar mendirikan monumen peringatan atas 100 anak-anak Prijedor yang dibunuh oleh pasukan Serbia. Akan tetapi, segala upayanya selalu ditolak oleh otoritas Kota.

“Melihat anak-anak seusia anak saya, saya benar-benar tidak melihat suatu masa depan untuk mereka di sini. Anda harus menggali dan menarik akar [permasalahan]nya untuk dapat hidup secara normal,” ungkap Fikret.

Sementara itu, belasan monumen telah didirikan di Prijedor untuk menghormati para tentara Serbia yang mati dalam perang, beberapa dari mereka akhirnya didakwa atas kejahatan perang.

“Politik pembagian etnik dan supremasi yang menggunakan kekejaman massal sebagai prioritas masih sangat aktif serta didukung oleh negara tetangga, Serbia dan Kroasia,” ungkap Refik Hodžić, seorang jurnalis dan ahli dari keadilan transisional internasional (ICTJ) yang berasal dari Prijedor, kepada Al Jazeera.

Jika “politik supremasi etnik yang menghasut dan tidak manusiawi seperti itu serta diskriminasi” berlanjut, konflik yang lain mau tak mau akan terjadi, pungkasnya. (Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.