Jumat, 27 November 2020

Matahari Kembali Tutup Gerai di Mal Anggrek, Pemerintah Makin Pusing

Matahari Kembali Tutup Gerai di Mal Anggrek, Pemerintah Makin Pusing

Foto. Matahari Department Stor Mal Anggrek Jakarta Barat gelar diskon besar-besaran jelang tutup toko pada 4 Desember.(ist)

Jakarta, Swamedium.com – Matahari Department Store kembali menutup gerai di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, menyusul dua gerai yang telah ditutup lebih dahulu, yaitu di Pasaraya Blok M dan Manggarai, Jakarta Selatan. Gerai di Mal Anggrek menggelar diskon besar-besaran untuk menghabiskan stok sampai tanggal 3 Desember dan tutup toko, 4 Desember.

Selain Matahari, ada beberapa toko ritel offline yang terpaksa gulung tikar, diantaranya 7-Eleven, Lotus, dan Debenhams. PT Modern Sevel Indonesia menutup seluruh gerai 7-Eleven pada 30 Juni 2017. Pihak manajemen menyatakan ada beberapa alasan menutup gerai tersebut, seperti menyelamatkan lini bisnis lain, keterbatasan sumber daya untuk menunjang ongkos operasional, hingga faktor regulasi pemerintah.

Menurut CEO Sogo Indonesia Handaka Santosa, maraknya ritel offline yang gulung tikar penyebabnya karena tidak dapat menutupi pengeluaran perusahaan.

“Sebetulnya ritel adalah bisnis yang memilih, dan menjual barang kepada konsumen. Mungkin karena tidak bisa meng-cover pengeluarannya, jadinya tutup gerai,” kata Handaka, Kamis (23/11) yang dirilis Okezone.com.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, menjelaskan bahwa masalah utama lesunya ritel ada pada daya beli yang kian menurun.

Menurut Bhima, masyarakat kelas atas menaruh uang yang mereka miliki di perbankan tapi tidak mau dibelanjakan. Alasannya, karena mereka khwatir kinerja ekonomi kedepannya kurang prospektif dan kebijakan pajak makin agresif.

Bhima memberikan beberapa solusi untuk menangani masalah ini.

Menurutnya, pemerintah perlu menjaga subsidi dan mempercepat pencairan dana Bantuan Sosial (bansos). Selain itu, pemerintah harus membangun iklim perpajakan yang kondusif agar orang kaya kembali mau belanja dan melakukan investasi di negara sendiri.

Sementara untuk meminimalisir tingkat pengangguran di Indonesia, pemerintah disarankannya membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Ini dilakukan dengan mendorong insentif bagi industri pengolahan sekaligus menurunkan biaya produksi salah satunya dengan utilitas listrik dan gas.

Bhima menambahkan, adanya stimulus khusus bagi sektor ritel yang bertujuan untuk mencegah adanya PHK masal juga menjadi faktor solusi yang terpenting. Misalnya pemberian insentif fiskal dan diskon tariff listrik. “Jumlah tenaga kerja yang terancam PHK akibat hal ini bisa mencapai 10 ribu orang pada 2018,” tutur dia.(*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.