Kamis, 03 Desember 2020

Menteri OPEC: Kami Terbiasa Pakai Grup WhatsApp

Menteri OPEC: Kami Terbiasa Pakai Grup WhatsApp

Jakarta, Swamedium.com — Negara-negara pengekspor minyak bumi (OPEC) akan mengadakan pertemuan di Wina pada 30 November. Beberapa fakta unik tentang sebagian anggota OPEC terungkap.

“Kami terbiasa menggunakan grup WhatsApp untuk seluruh menteri dan delegasi dari [negara-negara] Teluk. Ruangan obrolan sangat sibuk. Sekarang grup itu sudah tiada,” ungkap seorang narasumber senior OPEC.

Empat narasumber yang lain berkata, tidak ada kontak resmi di antara negara-negara Teluk yang tergabung dalam dewan kooperasi Teluk (GCC) untuk kebijakan minyak bumi.

GCC terdiri dari anggota OPEC, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Qatar, serta dua negara bukan anggota OPEC, yakni Oman dan Bahrain.

Anggota utama OPEC, Arab Saudi dan UEA, memutuskan hubungan dengan Qatar pada Juni 2017. Mereka menyebut pemerintah Qatar mendukung terorisme dan bersekongkol dengan Iran.

Pemerintah Qatar membantah tudingan itu.

“Para menteri tidak dapat bertemu,” kata seorang narasumber yang lain. “Mereka mungkin menyampaikan pesan melalui menteri perminyakan Kuwait atau Oman, tetapi Saudi dan UEA tidak dapat bertemu dengan menteri Qatar secara publik.”

Kuwait dan Oman telah menahan diri dari perselisihan Teluk tersebut. Emir Kuwait, Syaikh Sabah, telah memimpin mediasi regional.

OPEC telah selamat dari krisis buruk, bahkan tetap bekerja, walaupun terjadi ketegangan yang kuat, seperti perang Irak-Iran pada 1980-an, invasi Irak ke Kuwait pada 1990, serta ketegangan antara Arab Saudi dan Iran selama puluhan tahun.

Tidak seorang dari beberapa narasumber itu yang berpendapat krisis Qatar akan membatalkan rencana OPEC memperpanjang pemotongan harga hingga akhir 2018.

“Jika GCC mati secara politik, itu pasti akan berimplikasi terhadap segala kebijakan OPEC. Tidak berarti hal itu akan mengganggu pengambilan keputusan, tetapi akan membuatnya lebih menantang dan rumit,” ujar seorang narasumber senior OPEC.

Irak dan Iran
Dengan cadangan minyak bumi terbesar keempat dan kelima, Irak dan Iran tampaknya merupakan anggota OPEC dengan potensi pertumbuhan produksi terbesar. Oleh sebab itu, keduanya secara bersama, dapat menjadi penantang terkuat bagi Arab Saudi yang telah memimpin selama puluhan tahun.

Irak telah menolak permintaan Amerika Serikat untuk mengurangi kepercayaan kepada Iran.

Sementara itu, Iran berencana mengimpor minyak bumi Irak dengan jumlah yang signifikan.

“(Pemerintah) Saudi mengerti betul tentang tantangan itu dan melakukan yang terbaik untuk mengurangi pengaruh Iran terhadap Irak,” kata seorang narasumber OPEC.

Hubungan antara Arab Saudi dan Irak telah membaik beberapa bulan ini. Keduanya menjalin kerja sama memerangi ISIS dan membangun kembali Irak yang hancur akibat perang.

Menteri energi Kerajaan Arab Saudi, Khalid al-Falih telah mengunjungi Irak pada Oktober 2017 untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan energi. (*/Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.