Minggu, 22 November 2020

Beroperasinya SPBU Vivo yang Jual BBM Kualitas Rendah Permalukan Pemerintah

Beroperasinya SPBU Vivo yang Jual BBM Kualitas Rendah Permalukan Pemerintah

Foto. SPBU Vivo diijinkan menjual bensin berkualitas rendah, bukti pemerintah tidak konsisten dengan kebijakannya. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Keputusan pemerintah mengijinkan perusahaan swasta, PT Vivo Energi Indonesia menjual bensin kualitas rendah, oktan RON 89 sebuah langkah mundur. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai, kehadiran SPBU Vivo itu mempermalukan pemerintah sekaligus berlawanan dengan tren energi ramah lingkungan.

Ketua Pengurus YLKI Tulus Abadi mengatakan, dukungan atas pengoperasian SPBU yang menjual BBM oktan rendah RON 89 itu dapat mempermalukan pemerintah karena bertentangan dengan tren penggunaan energi ramah lingkungan.

“Negara lain berjibaku untuk lolos Euro3 dan Euro 4, sementara Indonesia belum lolos dengan Euro 2 karena melanggengkan BBM RON rendah,” kata Tulus Abadi melalui rilisnya seperti dikutip Antara di akhir pekan.

Menurutnya, target Indonesia untuk mengurangi produksi karbon hingga 26 persen pada 2030 tidak akan tercapai jika Indonesia masih menggunakan jenis BBM tersebut. Hal tersebut tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan energi bersih serta energi baru dan terbarukan.

“Bagaimana mau mengurangi produksi karbon jika penggunaan bahan bakar kualitas rendah masih dominan. Dan mengapa pula Kementerian ESDM menyambut beroperasinya SPBU tersebut,” imbuhnya.

Tulus mengatakan dukungan Pemerintah terhadap SPBU itu justru memunculkan berbagai anomali. Pertama, karena penjualan BBM oktan rendah tidak sesuai peta jalan (roadmap) yang seharusnya mengurangi konsumsi dan distribusi BBM beroktan rendah.

Bahkan di negara tetangga, seperti Malaysia, menjual BBM dengan RON paling rendah 95. Kalaupun RON yang dijual adalah 89, menurut Tulus, klaim tersebut harus diuji terlebih dahulu di laboratorium independen.

Anomali kedua, SPBU itu menjual BBM oktan rendah di bawah harga pasar. Bisa saja hal tersebut merupakan teknik pemasaran untuk menggaet konsumen pada masa promosi. Kalau masa promosinya lewat, mereka bisa menjual dengan harga normal atau bahkan lebih mahal.

Tulus menilai, SPBU tersebut sebaiknya beroperasi di daerah terpencil (remote), sejalan dengan kebijakan BBM Satu Harga. “Di daerah tersebut masyarakat jauh lebih membutuhkan karena masih minimnya infrastruktur SPBU,” ujarnya.

Sebelumnya, Corporate Communication PT Vivo Energi Indonesia Maldi Aljufrie mengatakan pihaknya akan menjual bensin di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Vivo di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dengan harga lebih murah dibandingkan dengan lokasi SPBU di kota-kota besar. Faktanya, SPBU Vivo yang pertama diresmikan Menteri ESDM Ignatious Jonan di Cilangkap, Jakarta Timur (bukan daerah terpencil).

Anomali ketiga, SPBU VIVO menjual BBM RON 88, tapi kemudian ditingkatkan seolah menjadi RON 89. “Klaim ini harus diuji dulu dilaboratorium independen untuk membuktikan kebenarannya. Namun sekalipun mengantongi RON 89, tetap jauh dari standar Euro 2,” kata dia.

Anomali keempat, SPBU Vivo hadir di Jakarta. Tulus menuturkan seharusnya SPBU Vivo didorong untuk beroperasi di daerah remote, seiring dengan program pemerintah yang getol dengan kebijakan satu harga untuk BBM. Sebab, di daerah tersebut masyarakat jauh lebih membutuhkan karena masih minimnya infrastruktur SPBU.

Anomali kelima, Menteri ESDM dan jajarannya menyambut gegap gempita beroperasinya SPBU Vivo, dan perizinannya pun konon sangat mudah.

Tulus mengatakan, Undang-Undang Migas melegitimasi adanya kompetisi di sektor minyak dan gas, baik dari sisi bulu dan atau hilir. Hadirnya SPBU swasta, di luar SPBU Pertamina, adalah keniscayaan atas legitimasi UU Migas tersebut. Di Jakarta dan sekitarnya sudah banyak SPBU swasta asing sebagai wujud kompetisi tersebut.

Namun, menurut dia, dioperasikannya SPBU Vivo yang menjual BBM dengan kualitas rendah, adalah tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah itu sendiri, yang akhir-akhir ini getol mengusung kebijakan energi bersih, bahkan energi baru dan terbarukan. Dia juga menilai beroperasinya SPBU ini tidak sejalan dengan target Indonesia untuk mengurangi produksi karbon hingga 26 persen pada 2030.

“Bagaimana mau mengurangi produksi karbon jika penggunaan bahan bakar kualitas rendah yang sangat mencemari lingkungan masih sangat dominan?” katanya.

Jenis bahan bakar minyak yang akan dijual pada SPBU 3T adalah Revo 89, Revo 90 dan jenis Primus atau BBM untuk diesel dengan Ron 48 sampai Ron 49. Jenis BBM Revvo RON 89 hari ini dijual dengan harga Rp 6.100, RON 90 sebesar Rp 7.500 dan RON 92 sebesar Rp 8.250. (*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.