Selasa, 01 Desember 2020

Seluruh Proyek Zionisme Merupakan Suatu Struktur Kolonialisme

Seluruh Proyek Zionisme Merupakan Suatu Struktur Kolonialisme

London, Swamedium.com — Penghargaan tahunan keenam buku Palestina yang mengapresiasi para penulis atas karya mereka tentang Palestina berlangsung di London, Inggris, Jumat (24/11) malam.

Pada acara penghargaan yang diselenggarakan oleh Middle East Monitor (Memo) itu, lima penulis memenangkan penghargaan atas empat kategori berbeda.

Björn Brenner, seorang dosen departemen keamanan, strategi, dan kepemimpinan di Universitas Pertahanan Swedia, dan Laila Parsons sama-sama meraih penghargaan akademis atas karya mereka, Gaza Under Hamas: From Islamic Democracy to Islamist Governance dan the Commander Fawzi al-Qawuqji and the Fight for Arab Independence 1914–1948.

“Ia tinggal bersama kami, hidup bersama kami, mengemukakan suara kami,” kata Karma Nabulsi, seorang profesor Oxford, saat mengundang Björn naik ke panggung untuk menerima penghargaan atas buku yang ditulisnya selama enam tahun, termasuk saat berada di Gaza.

Kemudian, Karma memuji Laila Parsons, seorang sejarawan Universitas McGill, Kanada, karena lebih memilih arsip-arsip Arab daripada Inggris atau pun Israel untuk mengingatkan seluruh dunia.

Laila menghubungkan pergerakan al-Qawuqji, seorang pemimpin nasionalis Arab yang lahir pada abad ke-19, dengan keadaan sekarang. “Kisah [karya] saya ialah tentang perjuangan kolonial. Perjuangan kolonial masih berlangsung di Palestina.”

Samia Halaby (80), seorang pelukis abstrak dan cendekiawan seni Palestina yang berpengaruh, memenangkan penghargaan kreatif atas karyanya, Drawing the Kafr Qasem Massacre, yang mencantumkan wawancara dengan para korban yang selamat serta gambar-gambar dokumentasinya tentang pembantaian yang dilakukan oleh polisi perbatasan kolonialis Israel di suatu desa Palestina pada 1956.

Samia berkata bahwa ia optimistis akan masa depan Palestina. “Saya yakin bahwa Palestina akan bebas. Musuh utama ialah imperialisme dan imperialisme memiliki penyakit jantung. Dan seorang teman berkata bahwa saat memiliki penyakit jantung, Anda akan mati dalam lima atau 25 tahun.”

Ella Shohat, seorang profesor Universitas New York, memenangkan penghargaan memoar atas karyanya, on the Arab-Jew, Palestine, and Other Displacements.

Akademisi warga AS berkebangsaan Arab-Yahudi yang lahir di Irak pada 1959 itu mengatakan bahwa suatu hari akan ada kedamaian yang layak bagi orang-orang Palestina.

Ilan Pappé, seorang profesor ilmu sosial dan studi internasional Universitas Exeter, Inggris, meraih penghargaan prestasi seumur hidup dari Manuel Hassassian, seorang perwakilan pemerintah Palestina di Inggris, atas sekian karya tulisnya tentang Palestina.

Sejarawan ekspatriat Israel dan aktivis sosial yang lahir pada 1954 itu menuliskan sejarah Israel sejak rilisnya dokumen-dokumen resmi rahasia Inggris dan Israel pada 1980-an.

Sementara sedikit orang di Israel akan memandang karyanya sah, Ilan menyatakan, “Penghargaan ini merupakan suatu penegasan kembali bahwa yang saya kerjakan memiliki sejumlah referensi.” Jadi, karyanya memang tidak sembarangan.

Saat diwawancarai oleh MEE, Ilan menjelaskan, “Saya memandang seluruh proyek zionisme sebagai suatu struktur, bukan hanya satu kejadian, struktur kolonialisme pemukim dengan suatu pergerakan para pemukim yang menjajah satu tanah air. Selama penjajahannya belum selesai dan penduduk asli bertahan melalui pergerakan pembebasan nasional, setiap periode yang saya lihat itu hanya suatu tahap dari struktur yang sama.”

Björn berkata kepada MEE, “Musim panas ini kami dapati hubungan yang dekat antara Hamas dan Mohammed Dahlan, meskipun ia adalah mantan kepala keamanan Fatah di Gaza. Kini, mereka bersiap bekerja sama dengannya karena itulah pilihan terbaik mereka.”

Laila pun mengungkapkan kepada MEE bahwa ia tidak ingin menulis suatu buku dari sudut pandang kolonial.

“Saya sangat ingin menulis suatu sejarah naratif yang telah diteliti masak-masak. Saya ingin membuatnya berdasarkan sumber-sumber berbahasa Arab, bukan sumber-sumber kolonial,” ujar Laila.

Memo mengatakan telah menerima sekitar 40 pengajuan para kandidat penghargaan tahun depan dan akan mengumumkannya dalam beberapa bulan mendatang. (Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.