Selasa, 01 Desember 2020

Ini Alasan Inalum Tidak Tepat Jadi Holding BUMN Tambang

Ini Alasan Inalum Tidak Tepat Jadi Holding BUMN Tambang

Foto: Ilustrasi (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Rencana pemerintah menggabungkan tiga BUMN tambang dengan menjadikan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai induk usaha (holding) dinilai tidak tepat. Sebab, basis industri Inalum berbeda dengan beberapa perusahaan yang dibawahinya.

Ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri menilai, pemerintah keliru melakukan holdingisasi perusahaan sektor tambang dengan menempatkan Inalum sebagai induk holding.

“PT Inalum itu bukan perusahaan tambang, karena dia tidak menggali dari bumi seperti batubara, seperti nikel, tembaga dan bouksit. Dia hanya mengolah alumina menjadi aluminium,” ujar Faisal di Jakarta, Senin (27/11) yang dirilis Kontan.

Seperti diketahui, holding perusahaan tambang nantinya akan terdiri dari PT Timah (Persero), PT Aneka Tambang (Persero) dan PT Bukit Asam (Persero). Sementara, Inalum (Persero) akan menjadi induk holding.

Faisal mengatakan keempat anggota holding tersebut juga memiliki struktur pasar yang berbeda. Di mana apabila disatukan akan menimbulkan kekeliruan. “Struktur pasar dari aluminium itu alumina. Bouksit beda lagi, batubara juga beda, jadi struktur pasarnya beda,” jelasnya.

Faisal menambahkan, seharusnya pemerintah melakukan holding dengan perusahaan sejenis. Contohnya, Inalum digabung dengan perusahaan pengguna produk Inalum.

“Perusahaan aluminium itu bisa disinergikan dengan pengguna aluminium itu. Bisa dengan Mitsubitsi atau apa itu. Nah, kita yang sekarang mau disinergikan ke hulu. Padahal seharusnya disinergikan bukan ke hilir,” jelasnya.

Holding bermanfaat

Sementara itu, Mantan Wakil Ketua KPK periode 2003-2007 sekaligus Mantan Dirut PT Timah Tbk, Erry Riyana Hardjapamekas mengaku sepakat dengan rencana ini mengingat manfaatnya yang sangat besar bagi holding, anggota holding, dan masyarakat Indonesia.

“Secara prinsip saya sepakat dengan konsep holdingisasi asalkan ada transparansi, tidak melanggar hukum, dan tidak melepaskan kontrol dari negara. Secara konsep holding ini bagus dan positif, terutama kalau kita mau menuju pada hilirisasi perusahaan tambang,” jelas Erry dalam diskusi media bertema ‘Menakar Untung Rugi Holding BUMN di Jakarta, Senin (27/11).

Mantan Dirut PT Timah Tbk ini mengungkapkan, banyak sekali keuntungan yang dapat diambil dari keberadaan holding tambang ini. Salah satunya optimasi sinergi, misalnya logistik, pemasaran, operation maintenance. Holding bisa dipakai untuk melaksanakan mekanisme saling silang. Saat harga timah turun, yang memproduksi nikel bisa membantu. Saat batubara turun, yang produksi timah bisa bantu.(*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.