Senin, 30 November 2020

Dengan Reklamasi, Cina Ingin Kuasai Laut Cina Selatan

Dengan Reklamasi, Cina Ingin Kuasai Laut Cina Selatan

Tampilan udara Kota Sansha di salah satu pulau di Kepulauan Paracel yang direbutkan oleh Cina dan Vietnam. Cina mengklaimnya sebagai bagian Provinsi Hainan pada 27 Juli 2012. (stringer/AFP)

Ho Chi Minh, Swamedium.com — Laut Cina Selatan seluas 3,5 juta km² membentang dari pantai selatan Cina hingga pantai utara Pulau Kalimantan. Berbagai potensi alam dan ekonomi melimpah di sana.

Vietnam merupakan saingan Cina yang paling blakblakan dalam persengketaan di Laut Cina Selatan.

Menurut sebagian besar konsumer Vietnam, orang-orang Vietnam menghindari barang-barang buatan Cina. Mereka cenderung memilih produk-produk Jepang dan Korea Selatan.

Apalagi ketika aktivitas agresif pemerintah Cina di perairan Vietnam di Laut Cina Selatan, nasionalisme Vietnam makin bergelora, termasuk membentuk sikap para konsumer. Demikian uraian Trung Nguyen, dekan hubungan internasional Universitas Ho Chi Minh.


Kapal Reklamasi Berukuran Sangat Besar
Satu kapal pengeruk besar Cina memulai pengujian air di Provinsi Jiangsu, Cina Timur, pada Jumat, 3 November 2017.

Kapal dengan panjang 140 meter itu dapat mengeruk 6.000 m³ pasir per jam, dan dapat menggali hingga 35 meter di bawah dasar laut.

Kapal bernama Tian Kun Hao didanai dan didesain oleh Tianjin Dredging bersama China Communication Construction, dan dibuat oleh Shanghai Zhenhua Heavy Industry.

Jika dasar laut berbatu, peralatan 6.600 kilowatt Tian Kun Hao dapat memotong-motong bebatuan keras dan memompa pasir masuk ke kapal, lalu memompanya otomatis ke luar sejauh 15.000 meter.

Tian Kun Hao direncanakan beroperasi pada Juni tahun depan.

Tian Kun Hao dengan mudah dapat digunakan di Laut Cina Selatan yang disengketakan untuk membangun pulau-pulau buatan.

Para ahli yakin, Tian Kun Hao akan ditarik pertama kali ke Kepulauan Paracel.

Cina giat membangun pulau-pulau kecil di seluruh Laut Cina Selatan. Paracel merupakan kepulauan yang terdiri dari 130 pulau kecil alami. Kepulauan itu dikuasai oleh Cina, tetapi direbutkan pula oleh Vietnam sejak 1970-an.

Kapal pengeruk tersebut mungkin akan menjadi perhatian utama Vietnam karena hanya Vietnam yang merebutkan kepulauan itu secara aktif, kata Le Hong Hiep, seorang peneliti institut Yusof Ishak, Singapura.

“Jika Cina membangun pulau-pulau baru di Paracel, Vietnam akan berada pada posisi yang lebih sulit dalam menggalang dukungan internasional untuk menentang langkah Cina karena perselisihan ini tidak memiliki negara pengklaim yang lain,” terang Le.

Lebih Banyak Pulau Buatan?
Percepatan pembangunan pulau-pulau buatan akan membantu Cina memperluas kontrolnya terhadap Laut Cina Selatan. Kontrol berarti mendapat hak-hak spesial bagi perahu-perahu nelayannya hingga pemboran minyak bumi lepas pantai.

Bahkan, suatu hari Cina mungkin akan memblokade kapal-kapal negara lain di Laut Cina Selatan yang merupakan salah satu jalur tersibuk, sekitar sepertiga pengiriman laut dunia berlalu-lintas.


Cina mengklaim sekitar 90 persen Laut Cina Selatan yang kaya akan berbagai jenis ikan dan cadangan bahan bakar fosil. Klaim itu mencaplok zona ekonomi eksklusif Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Pulau-pulau buatan Cina di Kepulauan Spratly siap untuk segala instalasi militer menurut inisiatif transparansi maritim Asia, pusat studi strategis dan internasional di Amerika Serikat.

Vietnam pun merebutkan Kep. Spratly.

Negara-negara pesisir lain kurang ahli atau kurang dana untuk membuat kapal pengeruk berukuran besar.

Cina telah menunjukkan mungkin tidak akan mendiskusikan perselisihan Paracel dengan Vietnam, terang Trung Nguyen.

“Ini akan menjadi problem bagi Vietnam dan ini meningkatkan kesulitan bagi Vietnam untuk menentang tindakan Cina di Laut Cina Selatan dan pekerjaan reklamasinya jika Cina memiliki teknologi tinggi seperti itu,” ungkap Trung. “Hingga sekarang, saya sangat pesimistis.” (*/Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.