Minggu, 29 November 2020

Indef Bantah Rezim Jokowi Sudah Sukses Bangun Infrastruktur

Indef Bantah Rezim Jokowi Sudah Sukses Bangun Infrastruktur

Foto. Lembaga riset ekonomi INDEF bantah klaim gencarnya pembangunan infrastruktur pemerintah . (nael)

Jakarta, Swamedium.com – Pemerintah mengklaim telah melakukan pembangunan infrastruktur yang masif di berbagai daerah selama tiga tahun terakhir. Klaim itu dibantah oleh Indef yang mencatat dari total 247 proyek strategis nasional, sampai tahun 2017 hanya 22 proyek (9%) yang dinyatakan selesai. Artinya, pembangunan infrastruktur mengalami stagnasi.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan, pembangunan fisik infrastruktur sendiri nyatanya masih belum menunjukkan progres yang berarti. Dari total 247 proyek strategis nasional, sampai tahun 2017 hanya sembilan persen atau 22 proyek yang dinyatakan selesai. Sedangkan yang masih dalam tahap perencanaan atau persiapan mencapai angka 36 persen atau 88 proyek.

“Artinya selama ini proyek infrastruktur dapat dikatakan mengalami stagnansi,” ujar Enny saat menjadi pembicara dalam seminar nasional “Stabilitas Tanpa Akselerasi” di Jakarta, Rabu (29/11), yang dirilis Antara.

Selain itu, indikasi anomali dari pembangunan proyek infrastruktur yaitu penyerapan tenaga kerja dan upah buruh bangunan yang menurun. Dengan semakin meningkatnya infrastruktur, idealnya penyerapan tenaga kerja harusnya juga ikut naik.

Meski dampak pembangunan infrastruktur baru bisa sepenuhnya dirasakan pada jangka panjang, kata Enny, namun seharusnya dalam jangka pendek manfaat tersebut juga sudah mulai terlihat, seperti meningkatnya penyerapan tenaga kerja, terutama tenaga kerja di sektor konstruksi.

“Memang ada time-lag, pembangunan infrastruktur tidak serta merta hasilnya dapat dinikmati dalam jangka waktu dekat, tapi minimal ada akselerasinya,” kata Enny.

Faktanya, penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi pada 2015 mencapai 7,72 juta jiwa atau sekitar 6,39 persen dibandingkan 7,71 juta orang di tahun 2016 atau turun 0,01 juta jiwa. Sementara, pada 2017 menyerap 7,16 juta orang. Artinya, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, tenaga kerja di sektor ini justru menyusut sekitar 0,56 juta orang.

Begitu pula dengan upah riil buruh bangunan yang nyatanya menurun. Upah riil adalah upah nominal dikurangi dengan tingkat inflasi. Pada September 2015, upah riil harian buruh bangunan mencapai Rp 66.158, lalu pada dua tahun berikutnya turun menjadi Rp 65.768 pada 2016 dan Rp 64.867 pada 2017.

Anomali tersebut tidak akan terjadi, jika pemerintah benar dalam melakukan pembangunan infrastruktur. (*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.