Jumat, 27 November 2020

Islam Kalau Diibaratkan Tubuh, Sakit Satu, Semua Merasakannya

Islam Kalau Diibaratkan Tubuh, Sakit Satu, Semua Merasakannya

Foto: Sayed Issa Fidaaldin, ustadz kelahiran Aman, Palestina menyampaikan tausiyah di Masjid Pusdai, Bandung. (Ariesmen/swamedium)

Bandung, Swamedium.com – Sayed Issa Fidaaldin, ustadz kelahiran Aman, Palestina yang kini tinggal di Turki mengajarkan kepada jamaah Tabliq Akbar di Masjid Pusdai, Bandung bahwa sesama muslim itu bersaudara, tidak ada sekat di antaranya.

“Jangan lagi terkotak-kotak atas nama negara. Sebab Islam itu kalau diibaratkan tubuh, satu sakit semua akan merasakannya,” kata ustad Fidaa, panggilan akrab dari Sayed Issa Fidaaldin, Rabu (29/11).

Pandangan tersebut menurut Ustadz Fidaa dicontohkan secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW lewat perjalanan hidup Bilal bin Rabah, dan kisah perjalanan hidup Salman Al Farisi.

Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda (putra wanita hitam).

Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Nabi Muhammad mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama pemeluk islam. Saat itu, pemeluk islam baru Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka.

Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas Bilal sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian, Quraisy mulai membuka pakaian muslim yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka, membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik.

Tidak cukup sampai di sana, orang- orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya.

Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.

Abu Bakar rela membayar berapapun harga yang diminta majikan Bilal, Harga kaum muslim tak bisa terhitung dibandingkan dinar-dinar berapapun banyaknya.

Tidak hanya itu, ketika Rasulullah selesai membangun masjid usai penaklukkan kota Mekah, Bilal bin Rabah diminta Nabi Muhammad untuk mengumandangkan panggilan shalat, padahal ada salah satu sahabat Rasulullah yang ingin menjalankan perintah tersebut, tetapi Rasulullah tak mau.

Sikap Rasulullah itu terang membuat Bilal terharu, betapa Islam adalah agama yang benar, tidak membeda-bedakan manusia sesuai warna kulitnya, Islam memandang muslim sesuai kadar ketakwaannya kepada Allah dan Rasulullah.

Salman Al Farisi, adalah lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Dia mendapat petunjuk dari majikannya akan munculnya seorang Nabi.

Hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!

Pada saat Rasulullah melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.

Rasulullah bersabda kepadaku, Geserlah kemari, maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu ini wahai Ibnu Abbas. Kemudian para sahabat takjub kepada Rasulullah ketika mendengar cerita perjalanan hidupku itu.

Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud.

Rasulullah suatu hari bersabda kepadaku, Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman! Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam mengumpulkan para sahabat dan bersabda, Berilah bantuan kepada saudara kalian ini. Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul Rasulullah bersabda kepadaku, Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku. Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah dan memberitahukan perihalku. Kemudian Rasulullah keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.

Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas beliau bersabda, Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?

Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!

Wahai Rasulullah, bagaimana status emas ini bagiku? Rasulullah menjawab, Ambil saja! Insya Allah, Allah akan memberi kebaikan kepadanya. Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.

“Yang harus dicamkan bersama, bahwa sesungguhnya umat Islam adalah Umat yang satu, harus saling berempati, kepada sesama saudara kita yang tengah mengalami musibah seperti di Suriah, di Palestina,” tutupnya. (Ris)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.