Jumat, 27 November 2020

Vietnam Kerap Menentang Cina atas Laut Cina Selatan

Vietnam Kerap Menentang Cina atas Laut Cina Selatan

Kapal water cannon Cina dan Vietnam saling menembakkan air di dekat pengeboran minyak masing-masing di Laut Cina Selatan. (AFP)

Jakarta, Swamedium.com — Hubungan antara Vietnam dan Cina sangat tegang sejak Juli ketika Cina menekan Vietnam untuk menghentikan pengeboran minyak di area yang direbutkan di Laut Cina Selatan.

Terumbu karang dan pulau-pulau di Laut Cina Selatan direbutkan oleh Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Vietnam, Taiwan, dan Cina.

Sejak presiden Filipina, Rodrigo Duterte, makin mendekat ke Cina, Vietnam menjadi penantang utama Cina di Area.

Tindakan Cina menekan Vietnam agar menghentikan pengeboran minyak di area yang direbutkan pada Juli 2017 menyebabkan hubungan kedua negara komunis itu renggang.

Presiden Xi dan Presiden Trump masing-masing mengadakan pertemuan bilateral resmi dengan pejabat Vietnam setelah pertemuan tingkat tinggi kerja sama ekonomi Asia Pasifik di Vietnam.

Trump mengatakan kepada presiden Vietnam, Tran Dai Quang, bahwa ia siap memediasi para penggugat atas Laut Cina Selatan dan menyatakan, posisi Cina merupakan masalah.

Trump dan Quang mengeluarkan pernyataan bersama yang menggarisbawahi pentingnya akses bebas dan terbuka ke Laut Cina Selatan.

Berikut ini ada beberapa bentrokan Vietnam dan Cina.


Pada Rabu, 16 Mei 2014, ratusan warga Filipina dan orang-orang Vietnam berunjuk rasa di Ibu Kota Manila, Filipina.

Mereka menuntut Cina menghentikan pengeboran minyak di Laut Cina Selatan yang direbutkan.

Polisi antihuru-hara Filipina memblokade pintu masuk kantor konsulat Cina di Makati, Manila. Sekitar 200 pengunjuk rasa berkumpul di depan kantor tersebut.

Aksi yang berakhir damai itu terjadi sehari setelah huru-hara mematikan di Vietnam akibat provokasi Cina mengebor minyak di perairan barat Filipina di Laut Cina Selatan.

Pabrik-pabrik dengan karakter Cina pada logonya menjadi sasaran amuk massa aksi anticina di Vietnam pada 14–15 Mei 2014. (AFP)

Dalam kerusuhan anticina itu, seorang pekerja Cina tewas. Cina menerbitkan larangan berkunjung ke Vietnam.

Seorang pekerja Cina tewas dalam kerusuhan di sebuah pabrik Taiwan, kata seorang polisi Vietnam kepada AFP.

Polisi menahan 500 orang setelah kerusuhan anticina tersebut mereda.

Cina dan Vietnam merebutkan Kepulauan Paracel dan Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan sekian tahun.

Bentrokan berlangsung berulang-ulang atas kontroversi pengeboran minyak di Laut Cina Selatan yang dilakukan oleh Cina dan Vietnam.


Pada Senin, 14 Maret 2016, para pengunjuk rasa beraksi memperingati 28 tahun pertempuran laut mematikan dengan Cina. Mereka pun mengecam meningkatnya arogansi Cina di Laut Cina Selatan.

Sekitar 150 orang mengenakan pengikat kepala dan membawa spanduk. Mereka berkumpul di jalanan yang sibuk di dekat Danau Hoan Kiem, Hanoi. Mereka meneriakkan yel kecaman terhadap Cina.

Mereka meletakkan karangan bunga sebagai tanda dukacita bagi 64 pelayar Vietnam yang tewas pada bentrokan 1988 dengan pasukan Cina di Kepulauan Spratly.

Nguyen Van Thong, seorang korban selamat penyerangan kapal Vietnam oleh pasukan Cina pada 14 Maret 1988, menceritakan peristiwa tragis itu.

“Saya melihat tembakan mendarat (di kapal) dan rekan-rekan saya berjatuhan di sekitar saya. Mereka terluka, berdarah saat mereka jatuh di kaki saya,” kenang Nguyen.

Saat itu Nguyen mengalami luka serius. Pasukan Cina menahannya di penjara Cina selama tiga setengah tahun.

Keluarganya mengira ia tewas, bahkan sebuah sertifikat kematian untuknya pun terbit saat itu. (*/Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.