Senin, 30 November 2020

Nilai Kerugian Masyarakat Akibat Tertipu Investasi Bodong Mengejutkan

Nilai Kerugian Masyarakat Akibat Tertipu Investasi Bodong Mengejutkan

Foto. Banyak masyarakat tertipu investasi bodong karena tergiur iming-iming keuntungan tinggi. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Praktek investasi bodong merajalela di tanah air. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, ada 132 badan usaha yang menawarkan investasi bodong dalam 10 tahun terakhir, dengan total nilai kerugian masyarakat mencapai Rp 105, 81 triliun.

Ketua Satgas Waspada Investasi OJK Tongam L. Tobing, mengatakan, ada 132 badan usaha penawar investasi bodong yang dinyatakan ilegal dalam 10 tahun terakhir. Saat ini, 12 entitas di antaranya sedang disidik oleh kepolisian. Adapun nilai kerugian akibat investasi bodong dalam 10 tahun itu mencapai Rp 105,81 triliun.

Sedangkan untuk kerugian terbesar, menurut Tongam, disebabkan investasi bodong yang dilakukan Pandawa Group dengan kerugian Rp3,8 triliun dan korban 549 ribu orang. Kemudian, di urutan kedua kerugian terbesar adalah investasi bodong yang ditawarkan Dream Freedom dengan total kerugian Rp3,5 triliun dengan korban 700 ribu orang.

“Penyebabnya banyak karena masyarakat mudah tergiur bunga tinggi. Masyarakat juga banyak yang belum paham investasi,” jelasnya di Jakarta, Kamis (30/11) seperti dilansir Antara.

Seperti diketahui, pemerintah tidak akan memberikan ganti rugi untuk investasi bodong. Sebaliknya, kalau menyimpan uang di bank, jika banknya bangkrut maka pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan mengganti uangnya.

Dalam merayu masyarakat agar mau berinvestasi, Satgas OJK menemukan, modus investasi bodong yang memanfaatkan nama besar tokoh agama dan tokoh masyarakat. Penggunaan nama besar tokoh agama ini untuk menambah minat masyarakat.

“Namun bahayanya pembohongan yang menggunakan pemuka agama dan tokoh publik ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap produk jasa keuangan,” ujarnya.

Menurut Tongam, kasus investasi bodong paling banyak terjadi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

“Banyak pelaku yang memanfaatkan akses internet untuk menawarkan investasi bodong, dan umumnya paling banyak terjadi di kota-kota besar yakni Jabodetabek,” ungkapnya.

Adapun 12 entitas penawar investasi bodong yang saat ini sedang diusut kepolisian, menurut Tongam, adalah Pandawa Group Depok, PT. Cakrabuana Sukses Indonesia, Dream For Freedom, PT. Compact Sejahtera Group, dan UN Swissindo.

Berikutnya, PT. Crown Indonesia Makmur, PT. Inti Benua Indonesia, Royal Sugar Company, Talk Fusion, First Travel, PT MI One Global Indonesia dan Wein Group Kupang. (*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.