Senin, 30 November 2020

Pascavonis, Terpidana Penjahat Perang Bosnia Mati Tenggak Racun

Pascavonis, Terpidana Penjahat Perang Bosnia Mati Tenggak Racun

Surat-surat kabar di Kota Mostar, Bosnia Herzegovina, melaporkan kematian Slobodan Praljak, terpidana penjahat Perang Bosnia, pada Kamis (30/11). (Amel Emrić/AP)

Den Haag, Swamedium.com — Komandan pasukan Republik Kroasia Herzeg-Bosnia selama perang Bosnia (1992–1995) mati akibat menenggak cairan yang ia klaim racun saat hadir di pengadilan pidana internasional eks Yugoslavia (ICTY) di Den Haag.

Kematiannya, Rabu (29/11), pertama kali dilaporkan oleh televisi negara Kroasia dan dikonfirmasi oleh juru bicara Pengadilan kemudian.

Ketika mendengarkan vonis hukuman penjara selama 20 tahun baginya, Letjen. Slobodan Praljak (72) berteriak kepada seorang hakim yang memimpin sidang, “Saya, Slobodan Praljak, menolak putusan hakim. Saya bukan seorang penjahat perang.”

Sesaat kemudian, ia menenggak sesuatu dari botol kecil dan menyatakan, “Apa yang saya minum sekarang ialah racun.”

Hakim menskors sidang dan memanggil dokter.

Insiden itu terjadi ketika ICTY menyelenggarakan pengadilan terakhir dengan enam terdakwa pimpinan politik dan militer Bosnia etnik Kroasia yang dinyatakan bersalah pada 2013 karena menganiaya, mengusir, dan membunuh Muslim Bosnia selama perang 1992–1995.

Wakil editor proyek Detecor, Denis Dzidic, dari Sarajevo mengatakan kepada Al Jazeera, polisi dan sebuah ambulans dikerahkan ke gedung pengadilan.

“Slobodan Praljak baru mendapatkan vonis kasus pertamanya, yakni hukuman penjara selama 20 tahun,” kata Denis.

“Ia mengatakan bahwa ia tidak menerima vonis tersebut, yang menyatakan ia seorang penjahat perang, lalu ia meminum suatu cairan.”

“Kemudian, hakim menskors sidang dan memerintahkan agar gelas [yang Slobodan minum darinya] tidak dipindahkan dari ruang sidang.”

“Vonis baru setengah jalan dan tiga terdakwa sebelumnya telah mendapatkan hukuman mereka masing-masing.”

Rabu (29/11) malam, hakim melanjutkan pembacaan vonis akhir serta menyatakan kembali masa hukuman penjara bagi tiga terdakwa yang lainnya.

Enam terdakwa, termasuk Jadranko Prlic, mantan perdana menteri Republik Kroasia Herzeg-Bosnia, telah dihukum pada 2013. Total masa hukuman penjara keenamnya adalah 111 tahun.

Republik Kroasia Herzeg-Bosnia merupakan entitas di Bosnia Herzegovina pada 1991–1994 yang tidak diakui. Menurut ICTY, entitas itu berdiri dengan maksud memisahkan diri dari Bosnia Herzegovina dan bergabung dengan Kroasia untuk mendirikan Kroasia Raya.

Mirip dengan Republik Srpska, satu dari tiga entitas di Bosnia Herzegovina, memiliki pimpinan yang membantai Muslim Bosnia serta ingin menguasai Bosnia Herzegovina dan bergabung dengan Serbia untuk mendirikan Serbia Raya. Namun, entitas ini masih diakui dan tetap ada bersama Federasi Bosnia Herzegovina dan Distrik Brčko.

Pimpinan politik dan militer Republik Srpska yang terbukti bersalah karena melakukan kejahatan perang telah dihukum. Salah satunya ialah Jenderal Ratko Mladić yang divonis hukuman penjara seumur hidup oleh hakim ICTY pada Rabu pekan lalu (22/11).

Pengadilan Rabu (29/11) itu menyatakan terdapat konflik bersenjata internasional di Bosnia Herzegovina, dan Kroasia telah menduduki delapan kota madya Rep. Kroasia Herzeg-Bosnia dengan mengendalikan pasukan bersenjata Bosnia etnik Kroasia, yakni majelis pertahanan Kroasia (HVO).

“Ada banyak sekali indikasi bahwa melalui majelis pertahanan Kroasia, Kroasia memiliki otoritas yang nyata,” kata Carmel Agius, hakim pemimpin sidang tersebut.

Menurut ICTY, para pejabat Bosnia etnik Kroasia merupakan bagian dari “proyek kejahatan bersama” untuk “menyatukan orang-orang Kroasia”, menganiaya dan membantai Muslim Bosnia, sehingga dapat mendirikan Kroasia Raya.

Edin Batlak dari asosiasi perkemahan konsentrasi korban selamat di Mostar berkata, vonis sesuai dengan harapannya.

“Saya puas,” ungkapnya. “Saya yakin vonis-vonis seperti ini akan membantu dalam hubungan antara Bosnia Herzegovina dan Kroasia.”

“Politik jahat mendapatkan vonisnya. Kroasia harus jujur sepenuhnya kepada Bosnia Herzegovina … dan harus melindungi serta menghormati kedaulatan dan integritas Bosnia Herzegovina.”

Pengadilan Rabu (29/11) tersebut adalah kasus terakhir yang diselesaikan sebelum ICTY ditutup pada 31 Desember 2017.

Sejak berdiri pada 25 Mei 1993, ICTY yang berlokasi di Den Haag, Belanda, telah mendakwa 161 tersangka dan menyatakan bersalah 90 terdakwa. (Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.