Jumat, 27 November 2020

Rohingya Kritisi Paus Francis karena Bungkam di Myanmar

Rohingya Kritisi Paus Francis karena Bungkam di Myanmar

Paus Francis tiba di bandar udara internasional Yangon. (Max Rossi/Reuters)

Jakarta, Swamedium.com — Para ekspatriat minoritas Muslim yang dianiaya menanggapi dengan tegas kegagalan paus menyikapi keterpurukan mereka.

Menjelang Paus Francis bertemu dengan sekelompok kecil pengungsi Rohingya di Bangladesh, sebagian besar pengungsi itu gelisah karena ia enggan berbicara secara terbuka tentang penganiayaan terhadap mereka selama berbulan-bulan dalam kunjungan empat harinya ke Myanmar.

Padahal pada masa lalu, Paus Francis–yang memiliki kepausan dengan karakteristik yang dikenal luas sebagai advokasi bagi para pengungsi dan minoritas yang rentan–telah berulang kali mengutuk kekejaman terhadap minoritas Muslim, menyebut mereka “saudara-saudara Rohingya kami”, dan melabeli para kristian yang menolak memperlakukan mereka secara manusiawi sebagai “hipokrit”.

Akan tetapi, segala harapan pupus sebagaimana paus Argentina itu, bahkan menolak menyebutkan “Rohingnya” selama dua kunjungan publiknya di Myanmar.

Uskup agung Naypyidaw, Kardinal Charles Maung Bo, mendesak Paus tidak menggunakan kata tersebut agar tidak mengundang reaksi komunitas kristian sebesar 650.000 di Myanmar.

Nasir Bin Zakaria (46), seorang Rohingya yang tinggal di Chicago, Amerika Serikat. Ia melarikan diri dari Myanmar saat berusia 14 tahun. Ia tidak pernah bertemu dengan kedua orang tua dan tujuh saudaranya lagi.

Di Chicago ia mendirikan pusat kebudayaan Rohingya.

“Saya berharap ia akan mengatakan sesuatu tentang Rohingya. Bahkan, kami menulis surat kepadanya memintanya berbicara tentang keterpurukan orang-orang Rohingya. Namun, harapan saya sudah pupus sekarang,” ungkap Nasir kepada Al Jazeera.

“Bungkamnya ia atas berbagai serangan terhadap Rohingya tidak akan menghentikan serangan-serangan terhadap minoritas di masa depan. Suatu hari pemerintah Burma mungkin memutuskan menyerang orang-orang kristian. Apa yang akan paus katakan? Apakah suatu minoritas lebih berharga dari yang lainnya?”

“Sebagai seorang yang mewakili tuhan, ia harus berbicara kebenaran. Kita semua melakukannya.”

Nijam Mohammad, seorang Rohingya yang tinggal di Bradford, Inggris, tiba di West Yorkshire, Inggris, melalui program perlindungan pintu gerbang organisasi migrasi internasional setelah ia tinggal di perkemahan pengungsi di Kutupalong, Bangladesh sejak berumur 10 tahun.

Kini, Nijam menjadi sekretaris jenderal komunitas Rohingnya Inggris.

“Kami semua kecewa paus tidak menyebut tentang Rohingya dalam pidatonya. Saya pikir ia melakukan itu karena ia khawatir tentang minoritas agama lain di Myanmar, terutama kristian yang tinggal di Negara Bagian Karen, yang telah mengalami kekerasan pada masa yang lampau. Ia hanya mengambil posisi yang pragmatis.”

“Apa yang penting adalah ia sadar betul situasinya, ia pernah menyatakan solidaritasnya dengan orang-orang Rohingya pada masa yang lalu.”

“Kami semua berharap, setelah mengunjungi komunitas Rohingya di Bangladesh, ia akan meningkatkan upayanya menghentikan genosida dan memulihkan hak-hak orang-orang Rohingya.”

Mohammed Rafique, seorang Rohingya yang tinggal di Carlow, Irlandia, lahir di Sittwe, ibu kota negara bagian Rakhine. Ia meninggalkan Myanmar pada 1991.

Setelah tinggal di perkemahan pengungsi di Kutupalong selama 17 tahun, ia menetap di Irlandia sejak 2009. Kini, ia bekerja sebagai sekretaris klub kriket Carlow.

“Sakit hati melihat Paus Francis memutuskan tidak mengatakan apa-apa, meskipun ia pernah berbicara tentang penganiayaan terhadap komunitas Rohingya.”

“Ia harusnya tidak mengikuti saran (Kardinal Charles) dan lebih berani memberikan contoh yang menentang penolakan identitas sekelompok orang yang menghadapi suatu ancaman eksistensial melalui pembersihan etnik yang didukung oleh negara.”

“Ia masih memiliki waktu untuk memperbaiki kesalahan. Namun, ia perlu melantangkan suaranya, keras dan jelas.”

Muijb Rahman, seorang Rohingya yang tinggal di Rockhampton, Australia, lahir di jantung Negara Bagian Rakhine pada 1984. Ia terbang ke Bangladesh saat berusia tujuh tahun.

Setelah tinggal di perkemahan pengungsi di Kutupalong selama hampir dua dekade, ia pindah ke Australia. Kini, Muijb merupakan seorang imam di masjid Central Queensland dan seorang mediator kultural.

“Paus Francis tahu apa yang terjadi di Myanmar. Namun, ia tidak mengatakan satu kata pun tentang ini selama pidato publiknya. Ini merupakan contoh nyata bagaimana beberapa minoritas di Myanmar itu rentan.”

“Bahkan ia, yang bertanggung jawab atas tindakannya kepada tuhan, lebih memilih mengindahkan saran orang-orang sesama keyakinannya agar tidak membuat masalah daripada sesama manusia yang menghadapi genosida mengerikan sendirian.”

“Identitas etnik harus menjadi hak dasar bagi setiap orang, bukan hak istimewa sebagian orang,” pungkasnya (Pamungkas)

Sumber: Al Jazeera

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.