Senin, 23 November 2020

Sudah Dua Tahun, Kenapa Proyek Listrik 35 Ribu MW Baru Selesai 948 MW?

Sudah Dua Tahun, Kenapa Proyek Listrik 35 Ribu MW Baru Selesai 948 MW?

Foto. Pembangunan mega proyek listrik 35 ribu watt baru selesai 948 megawatt meski sudah berjalan dua tahun. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Ternyata mega proyek pembangkit listrik 35 ribu mega watt (MW) rezim Jokowi yang heboh itu, dalam kurun waktu dua tahun berjalan baru selesai 948 MW atau kurang 3% dari target. PT PLN (Persero) beralasan, pembangkit yang dibangun tidak sama jenisnya sehingga pembangunannya membutuhkan waktu yang berbeda-beda.

Seperti diketahui, program mega proyek kelistrikan 35 ribu MW itu telah digagas sejak zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang diteruskan oleh Rezim Jokowi. Meski ada kontroversi bahwa Indonesia sedang kelebihan pasokan listrik, Presiden ngotot menargetkan proyek tersebut selesai di tahun 2019. Faktanya, sampai tahun 2017 akan berakhir, yang selesai baru 948 MW

Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suprateka mengungkapkan, hal tersebut diakibatkan pembangkit yang dibangun tidak sama jenisnya sehingga pembangunannya membutuhkan waktu yang berbeda-beda.

“Baru selesai 948 MW padahal sudah dua tahun. Karena jenis pembangkit macam-macam. Contoh PLTA bangun bendungan dulu itu 6 tahun baru bisa beroperasi. Paling mudah memang pembangunan PLTMG 9 bulan selesai,” kata dia yang dirilis Liputan6.com.

Selain membangun pembangkit, program kelistrikan 35 ribu MW juga membangun jaringan kelistrikan dan Gardu Induk. Pada program tersebut PLN mendapat tugas membangun transmisi 46.813 kilometer sirkit (kms) dan Gardu Induk 109.199 Mega Volt amper (MVa).

“Program 35 ribu MW ini kita tidak hanya bangun pembangkit, tapi transmisi untuk distribusikan pembangkit listrik ke pelanggan,” tuturnya.

Saat ini, PLN telah melakukan penandatanganan perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement /PPA) dengan pihak pengembang pembangkit listrik swasta sebanyak 29.746 MW.

Penandatanganan itu dilakukan sejak Mei 2015, atau dimulainya program listrik 35 ribu MW berjalan.
Menurut Suprateka, pembangkit listrik yang masuk dalam tahap konstruksi mencapai 15.126 MW.

Seperti dikutip dari infonawacita, program listrik 35 ribu mega watt ini diklaim membuat aset PLN naik cukup signifikan dari sebelumnya Rp850 triliun menjadi Rp1.350 triliun. Akibatnya, rasio utang terhadap modal pun menurun dari 297 persen menjadi 49 persen.

Penambahan daya listrik tersebut, menurut Suprateka, membuat PLN lebih mudah mendapatkan pinjaman dana dari bank-bank, baik nasional ataupun Internasional.

Rugikan PLN

Sementara itu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Hindun Mulaika mengatakan saat ini sesungguhnya Indonesia tengah mengalami kelebihan cadangan listrik. Gagasan proyek penyediaan listrik 35 ribu megawatt berpotensi merugikan PLN senilai Rp219 triliun.

Karena itu, ungkap dia, memaksakan pembangunan proyek listrik 35 ribu megawatt yang telah digagas sejak zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu terkesan mubazir.

“Cadangan listrik kita sekarang ini sudah surplus 30 persen. Seharusnya pemerintah dapat merevisi kebijakan 35.000 MW dengan tidak lagi melanjutkan pembangunan pembangkit listrik,” ujar Hindun, Senin, (9/10). (*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.