Sabtu, 28 November 2020

Ikut Reuni 212, Alumni dan Mahasiswa UI Soroti 3 Masalah Genting Negeri Ini

Ikut Reuni 212, Alumni dan Mahasiswa UI Soroti 3 Masalah Genting Negeri Ini

Foto. Alumni dan Mahasiswa UI Bangkit Untuk Keadilan ikut dukung Aksi Reuni 212 yang berlangsung di Tugu Monas, Jakarta, Sabtu (2/12). (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Alumni dan Mahasiswa UI Bangkit Untuk Keadilan kembali ikut berpartisipasi dalam Aksi Reuni 212 yang berlangsung di Tugu Monas, Jakarta Pusat hari ini. Ada tiga persoalan genting di negeri ini yang dinilai Alumni dan Mahasiswa UI memprihatinkan sehingga mereka ingin memperjuangkannya bersama rakyat.

Koordinator Lapangan (Korlap) Alumni dan Mahasiswa UI Bangkit Untuk Keadilan, Buyung Ishak mengatakan, bangsa ini memiliki tiga persoalan penting yang perlu mendapat perhatian serius dari rezim yang berkuasa saat ini.

Pertama, keadilan sosial bagi seluruh rakyat belum terwujud. Banyak ketidakadilan terjadi di negeri ini. Sebagai contoh, perekonomian di negeri ini hanya dikuasai oleh segelintir kelompok dan memarjinalkan kelompok yang lebih besar.

“Kue ekonomi tidak terdistribusi secara adil, dan membutuhkan peran negara untuk melindungi yang lemah,” tuturnya di Tugu Monas, Jakarta, Sabtu (2/12).

Di saat mayoritas orang berpenghasilan minim di Indonesia masih bingung besok mau makan apa, kelompok orang kaya dan super kaya yang jumlahnya lebih sedikit justru terus memupuk kekayaannya karena kedekatan dengan penguasa.

Kedua, penegakkan hukum (law enforcement) lemah. Hukum hanya tegak pada rakyat kecil, orang lemah. Tetapi hukum akan tumpul jika sudah berhadapan dengan uang dan kekuasaan.

“Contoh kasus, di Reklamasi Pantai Utara, Jakarta dan mega proyek Meikarta. Bagaimana hukum diinjak-injak dan pemerintah melakukan pembiaran. Buat rumah saja kalau gak ada izin langsung digulung.. tapi itu tidak berlaku untuk Meikarta dan pulau-pulau yang masuk program Reklamasi. Mereka saat itu sudah bisa bangun gedung tinggi-tinggi meski ijin belum jelas,” paparnya.

Belum lagi, lanjut Buyung, kasus-kasus yang mengatas namakan ujaran kebencian. “Ada yang berteriak bunuh, habisi kepada golongan tertentu atau ulama tidak bisa diproses hukumnya dengan beragam alasan. Tapi jika ada cuitan twitter yang mengkritisi penguasa saja langsung diproses dan dipenjara dengan dalih ujaran kebencian,” paparnya.

Foto. Alumni dan Mahasiswa UI siap menjaga NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. (maida)

Ketiga, masalah kemiskinan. Penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan masih banyak di negeri ini. Negara harus hadir untuk membantu kaum marjinal ini, bukan malah hadir untuk membantu orang kaya agar semakin kaya.

Kehidupan rakyat miskin saat ini, menurut Buyung, semakin susah menyusul kenaikan harga barang-barang, yang tidak diimbangi dengan naiknya pendapatan. Di sisi lain, janji pemerintah mewujudkan 10 juta lapangan kerja, ternyata yang bertambah malah pengangguran.

“Banyak proyek investasi infrastruktur yang seharusnya memberi pekerjaan kepada rakyat sendiri, justru yang menikmati orang China. Bukan hanya tenaga ahli, tenaga kerja kasar pun diimpor dari China,” ungkapnya.

Buyung menambahkan, situasi bangsa yang memprihatinkan tersebut yang membuat alumni dan mahasiswa UI prihatin. Kampus UI yang memiliki sejarah sebagai kampus perjuangan harus hadir dan berjuang bersama rakyat. Aksi Reuni 212 ini memberi spirit atau semangat kepada Alumni dan Mahasiswa UI untuk siap menjaga NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. (maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.