Jumat, 27 November 2020

Kaum Wanita Rohingya Jadi Korban Perdagangan Seks di Bangladesh

Kaum Wanita Rohingya Jadi Korban Perdagangan Seks di Bangladesh

Jakarta, Swamedium.com — Para remaja putri dan wanita Rohingya dijual sebagai budak seks di Bangladesh menurut beberapa agensi korban dan bantuan kemanusiaan.

Khartoun (nama samaran, 15) mengatakan kepada Al Jazeera, ia dijual sebagai budak seks setelah ia tiba di Bangladesh dengan perahu karena kabur dari kebrutalan militer Myanmar.

Ia hanya sendirian. Ibu, bapak, dan saudaranya tewas akibat serangan mortir oleh militer Myanmar.

Setibanya di Bangladesh pada September, dua wanita mendekatinya di pantai dan mengatakan kepadanya bahwa mereka akan membantunya.

“Mereka katakan jika saya pergi dengan mereka, mereka akan merawat saya dan membantu saya menemukan suami.”

Sebaliknya, ia dikurung selama tiga pekan dan dijual kepada seorang pria Bangladesh. Pria itu memerkosanya dan menyiksanya secara seksual selama 12 hari.

“Pria itu berkata, ‘Saya akan mencekikmu, menikammu. Saya akan membunuhmu. … Apakah kamu ingin mati seperti orang-orang dibunuh di Myanmar? Saya tidak akan membiarkanmu pergi,'” kenangnya.

Pria itu mengembalikan Khartoun kepada wanita-wanita yang menjualnya setelah 12 hari. Lalu, mereka meninggalkan Khartoun di perkemahan pengungsi, lokasi ia tinggal sekarang.

Agensi-agensi bantuan kemanusiaan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan, tenaga kerja dan perdagangan seks di perkemahan pengungsi makin memburuk dengan jumlah terakhir lebih dari 620.000 etnik Rohingya.

Militer Myanmar melancarkan kampanye pembunuhan dan pemerkosaan massal serta pembumihangusan permukiman Rohingya. PBB telah menyatakan bahwa Myanmar melakukan pembersihan etnik.

Olivia Headon dari organisasi migrasi internasional mengatakan, aksi urgen dibutuhkan untuk melindungi para wanita dan remaja putri di perkemahan pengungsi di Bangladesh.

“Ada para perekrut di sini, di Pasar Cox, Bangladesh, sebelum arus masuknya pengungsi. Dan kami tahu, mereka memiliki urusan lain,” ungkap Olivia kepada Al Jazeera.

Agensi bantuan kemanusiaan lokal yang mempertemukan dengan Khartoun berkata kepada Al Jazeera bahwa para stafnya yang bekerja mengurus para korban perdagangan telah mendapatkan ancaman pembunuhan dari kelompok-kelompok kriminal.

Organisasi yang tidak ingin disebut namanya karena takut pembalasan itu mengatakan, beberapa remaja putri sekitar 13 tahun telah diculik oleh para pedagang manusia.

Pada 2015, otoritas Thailand mengungkapkan jaringan-jaringan luas yang menjual orang-orang Rohingya setelah otoritas menemukan 36 jenazah di kuburan-kuburan dangkal di sekitar perbatasan antara Thailand dan Malaysia. (Pamungkas)

Sumber: Al Jazeera

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.