Sabtu, 28 November 2020

Nilai Kerugian Akibat Macet di Jabodetabek Capai Rp 100 Triliun

Nilai Kerugian Akibat Macet di Jabodetabek Capai Rp 100 Triliun

Foto. Kerugian ekonomi akibat kemacetan di wilayah ibukota dan jabodetabek sangat fantastis. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Kerugian ekonomi yang terjadi akibat kemacetan lalu lintas di ibukota dan sekitarnya sangat fantastis. Menurut perhitungan Bappenas, kerugian khusus di DKI Jakarta saja sebesar Rp 67,5 triliun atau kalau dihitung se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi) mencapai Rp 100 triliun di tahun 2017.

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Bambang Prihartono, mengungkapkan, kerugian akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya dari tahun ke tahun terus meningkat. Nilainya di tahun 2017 saja bisa mencapai Rp 100 triliun jika dihitung Jabodetabek atau Rp 67,5 triliun di ibukota saja.

Sebab itu, dia menambahkan, BPTJ bersama pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya telah mempersiapkan berbagai terobosan, yang harus dilaksanakan secepatnya.

“BPTJ dan Pemprov DKI akan terus berkoordinasi menindaklanjuti program peningkatan layanan angkutan umum dan penanggulangan kemacetan di DKI Jakarta dalam lingkup penanganan se-Jabodetabek,” kata Bambang di Jakarta, Minggu (3/12) yang dirilis merdeka.com.

Bambang mengungkapkan, tingkat kemacetan yang sangat tinggi di Ibu Kota ini ditunjukkan oleh rasio volume kendaraan dibanding kapasitas jalan sudah mendekati 1, atau dengan kata lain sudah macet dan perlu penanganan.

“Kondisi lalu lintas sudah jenuh. Jadi misalkan ada mobil atau motor mogok di pinggir jalan, pasti bakalan macet karena sudah jenuh,” ujarnya.

Saat ini, sepeda motor di jalan makin dominan, sementara peran angkutan umum masih rendah. Penggunaan angkutan umum di Jakarta baru 19,8 persen dan di Bodetabek baru 20 persen.

Di sisi lain, sejak tahun 2000-2010, jumlah kendaraan yang terdaftar mengalami peningkatan sebesar 4,6 kali. Untuk warga dari wilayah Bodetabek yang menuju Jakarta ada sekitar 1,1 juta orang. Angka tersebut terus meningkat 1,5 kali lipat sejak tahun 2002.

Dia menambahkan, untuk pergerakan lalu lintas harian di Jabodetabek yang semula pada 2003 sebesar 37,3 juta perjalanan per hari, kini telah meningkat 58 persen atau mencapai 47,5 juta perjalanan per hari di 2015.

Dari 47,5 juta perjalanan orang per hari tersebut, sekitar 23,42 juta merupakan pergerakan di dalam kota DKI, 4,06 juta adalah pergerakan komuter, dan 20,02 juta adalah pergerakan lainnya yang melintas di DKI dan internal Bodetabek.

“Perjalanan di Jabodetabek rata-rata didominasi oleh sepeda motor. Kendaraan pribadi sebesar 23 persen dan 2 persen oleh kendaraan angkutan umum,” tutur dia. (*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.