Jumat, 27 November 2020

Kisah Tujuh Pemuda Palestina Pejuang Berkemampuan Berbeda

Kisah Tujuh Pemuda Palestina Pejuang Berkemampuan Berbeda

Gaza, Swamedium.com — Sekitar 113.000 warga di Tepi Barat dan Jalur Gaza hidup dengan disabilitas. Lebih dari 33 persen siswa dengan disabilitas berhenti sekolah.

Fakta tersebut digambarkan salah satunya melalui film dokumenter karya Ramzi Maqdisi berjudul Defying My Disability (2016).

Dalam film itu, kita jumpai tujuh warga Palestina berusia tujuh hingga 28 tahun dengan berbagai disabilitas. Enam orang lahir demikian, sedangkan satu orang terluka dalam serangan zionis di Gaza.

Biarpun begitu, ketujuh pemuda Palestina itu bersikap positif, berkeinginan kuat mengatasi kekurangan fisik mereka, serta mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Kita jumpai Hanin Abu Ayyasy (25) yang tinggal di Hebron. Ia terlatih sebagai seorang sekretaris, tetapi tidak dapat menemukan pekerjaan karena mengalami gagap sejak lahir.

Ibunya menderita kekurangan oksigen saat melahirkannya, sehingga Hanin menjadi demikian.

“Salahkah saya merasa seperti orang lain?” tanyanya retorik. “Tidak salah menggunakan hak saya dan untuk mengetahui bahwa saya seperti halnya orang lain.”


Muhammad Sa’dah, seorang pemuda yang bekerja untuk pamannya di suatu pasar barang-barang bekas, lahir dengan cacat bawaan yang memengaruhi tubuh bagian bawahnya.

Ia meratapi kurangnya peralatan elektronik dan fasilitas-fasilitas lain bagi penyandang disabilitas di Tepi Barat.

Meskipun tidak dapat menggunakan kedua kakinya, ia berusaha mandiri dengan menggunakan kedua tangannya untuk menaiki tangga.

Idris Awaad (7) bertekad untuk belajar berjalan dan berlatih sepanjang dinding yang panjang dekat rumah pamannya setiap hari. Ia menderita kekurangan fisik itu karena kondisi seperti Hanin.


Zyad Dib (28), seorang seniman dan fotografer, kehilangan 11 anggota keluarganya sesaat sebelum ia lulus.

Serangan roket zionis Israel selama Perang Gaza pada 2008–2009 yang menewaskan keluarganya itu mengakibatkan Zyad kehilangan kedua kakinya.

Jasad bapak dan saudara laki-lakinya serta kedua kakinya dikuburkan bersama dalam satu lubang.

Segala tragedi tidak menghentikannya mendokumentasikan hal-hal indah di Gaza, Kota yang ia cintai.

Anas Abu Halub, seorang siswa Gaza, mengalami kondisi yang sama seperti Muhammad dan memerlukan kursi roda.

Ia bersekolah, namun tidak dapat berolahraga. Ia tidak ingin orang-orang merasa kasihan terhadapnya, sehingga membantunya.


Muna Zayd (14), seorang gadis dengan senyum yang lebar, dekat dengan kakak laki-lakinya, Thayr. Menurutnya, ia tidak memiliki teman karena anak-anak seusianya tidak mau bermain dengannya.

Gadis Gaza itu hampir putus sekolah karena sulit menggunakan kursi roda manual, sedangkan keluarganya tidak dapat mengantarkannya setiap hari. Ia bercita-cita menjadi guru sekolah dasar.

Abdurrahman Abu Rawah (17), seorang pelajar yang tinggal di Gaza, lahir dengan cacat bawaan yang membuatnya hidup hanya dengan satu lengan tangan (kiri) dan satu lengan kaki (kiri) saja.

Walaupun demikian, ia mengajarkan dirinya mengendarai sepeda dan bertekad membantu penyandang disabilitas yang lainnya.

“Disabilitas bukan di badan, melainkan di pikiran. Jika pikiran sehat, Anda dapat melakukan apa pun yang Anda inginkan. Saat Anda belajar, tiada yang tidak mungkin; dan bukti terbesarnya adalah saya dapat mengendarai sepeda. Mimpi saya ialah belajar dan membantu orang-orang yang seperti saya. Saya memahami apa yang mereka rasakan.”

Dalam menghadapi konflik, pendudukan zionis, tragedi, dan disabilitas di tempat-tempat yang kurang memadai untuk mengurus orang-orang berkebutuhan khusus, kita dapati bagaimana tujuh orang ini telah belajar mengarungi segala tantangan yang kompleks dengan optimisme dan kekuatan.

Dalam Defying My Disability, kita saksikan bagaimana mereka bertekad bangkit atas disabilitas mereka, memaksimalkan hidup, dan mengambil kekuatan dari hal-hal di sekitar mereka setiap hari, seperti keluarga mereka, laut, dan diri mereka sendiri. (Pamungkas)

Sumber: Al Jazeera

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.