Sabtu, 28 November 2020

Para Pendaki Difabel Capai Puncak Gunung Sesean

Para Pendaki Difabel Capai Puncak Gunung Sesean

Makassar, Swamedium.com — Tim pendaki penyandang disabilitas berhasil mencapai puncak Gunung Sesean (2.100 mdapl), Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, Sabtu (2/12) sekitar pukul 16.30 Wita.

Pendakian itu diikuti oleh sembilan penyandang disabilitas dan didampingi oleh tujuh puluh pegiat alam bebas. Mereka memulai pendakian dari kaki Gunung sekitar pukul 15.00 Wita.

Ahad (3/12) sekitar pukul 07.00 Wita, lebih dari 100 pendaki dan 9 penyandang disabilitas berupacara di puncak Gunung.

Dalam sambutannya, Abdul Rahman, seorang difabel netra yang menjadi direktur pergerakan difabel Indonesia untuk kesetaraan (Perdik), menyerukan agar masyarakat tidak lagi menggunakan istilah tuna-, apalagi cacat bagi para penyandang disabilitas atau difabel.

Difabel merupakan istilah singkatan dari bahasa Inggris different ability atau berkemampuan berbeda.

Kegiatan pendakian bersama difabel menembus batas bagian kedua itu berlangsung dalam rangka memperingati Hari Penyandang Disabilitas Internasional, yakni setiap 3 Desember.

“Jika dibandingkan dengan tidur di hotel selama dua malam, di sini lebih sensasional. Dengan pendakian ini, kita ingin perlihatkan bahwa difabel juga bisa mendaki gunung. Karena, kami selalu dipandang sebelah mata,” ujar Agus, salah seorang pendaki penyandang disabilitas.

Tim pendakian dibagi menjadi tim-tim kecil yang terdiri dari beberapa pegiat alam dengan seorang penyandang disabilitas.

Tim yang tiba pertama di puncak ialah tim yang beranggota seorang difabel netra dan difabel daksa kinetik.

Gusdur (sapaan akrab Abdul Rahman) mensyukuri capaiannya ke puncak. Ia berjalan mengikuti petunjuk para pendampingnya yang berada di depan, samping, dan belakangnya.

Ia menceritakan kadang ia mengalami kendala, “Sempat tergelincir karena lambat terima instruksi.”

Gusdur yang penglihatannya sekitar 30 persen itu sebelumnya sukses pula mencapai puncak Gunung Latimojong, Kab. Enrekang, Prov. Sulsel, pada peringatan tahun lalu.

Ia menjelaskan bahwa ia belajar dari pendakian tahun lalu, “Saya sudah tidak mengalami kesulitan dalam orientasi mobilitas karena intruksinya tepat. Berbeda dengan pendakian (Gunung) Latimojong yang kadang tidak tepat instruksinya dan masih ditarik pakai tali webbing yang dililit di pinggang, di sini (Gunung Sesean) saya hanya dipakaikan harness (pengaman panjat tebing), tapi sudah tidak ditarik.” (*/Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.