Sabtu, 28 November 2020

Pemberontak Syi’ah Hutsi Tewaskan Mantan Presiden Yaman

Pemberontak Syi’ah Hutsi Tewaskan Mantan Presiden Yaman

Sana’a, Swamedium.com — Mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh (75), tewas dibunuh oleh eks sekutunya, pemberontak syi’ah Hutsi, di luar Ibu Kota Sana’a.

Al Arabiya TV melaporkan, narasumber dari partai politik Saleh, GPC, mengonfirmasi bahwa Saleh tewas.

Sejumlah foto dan video yang beredar di media sosial menunjukkan tubuh seseorang yang menyerupai Saleh.

Padahal hingga pekan lalu, para pendukung Saleh bersama pemberontak syi’ah Hutsi memerangi para penjaga presiden petahana Yaman, Abdrabbuh Mansur Hadi.

Sejak Rabu (29/11) malam, lebih dari 125 warga Ibu Kota Sana’a tewas dan 238 yang lainnya terluka akibat bentrokan sengit yang dipicu oleh ketegangan politik dan perselisihan menguasai masjid utama.

Sabtu (2/12), Saleh menawarkan untuk “membuka halaman baru” dengan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung Presiden Hadi jika koalisi menghentikan serangan serta blokade terhadap Yaman.

Saleh menyebut Hutsi sebagai “milisi pengudeta”. Pernyataan itu memancing Hutsi menudingnya telah berkhianat.

Koalisi dan pemerintah rezim Hadi menyambut baik pernyataan Saleh tersebut. Akan tetapi, syi’ah Hutsi yang didukung oleh republik syi’ah Iran menuding Saleh mengudeta persekutuan.

Ahad (3/12) malam, Koalisi melancarkan serangan udara ke posisi Hutsi dan pertempuran darat dengan persenjataan berat menghebat. Para pekerja bantuan kemanusiaan mengatakan bahwa perang tersebut menyebabkan warga sipil terjebak di rumah masing-masing.

Kemudian pada Senin (4/12) malam, rumah Saleh diledakkan oleh pemberontak syi’ah Hutsi. Sebelumnya, masih belum jelas apakah Saleh berada di dalam bangunan saat ledakan terjadi. Namun, beberapa jam setelah itu, sejumlah laporan menyatakan ia tewas.

Rekaman video yang tidak terverifikasi pada media sosial memperlihatkan jasadnya dengan selimut dibawa ke mobil bak terbuka oleh beberapa pria bersenjata yang meneriakkan “Alhamdulillaah” dan “Yaa, Ali Affasy” berulang-ulang. Ali Affasy merupakan sebutan bagi Saleh.

Media yang berafiliasi dengan pemberontak syi’ah menyampaikan pernyataan Hutsi, “pembunuhan pemimpin pengkhianat dan sejumlah pengikutnya.”

Pada mulanya, narasumber dari GPC mengatakan kepada Al Arabiya bahwa Saleh baik-baik saja. Namun, setelah bermunculan gambar-gambar jasadnya, pejabat partai itu mengungkapkan kepada kanal milik Saudi tersebut bahwa Saleh ditembak mati oleh penembak jitu.

Hakim Almasmari, editor surat kabar Yemen Post, mengatakan kepada Al Jazeera TV, pemberontak Hutsi menembaki konvoi Saleh dalam perjalanan dari Sana’a ke kampung halamannya, Sanhan.

Narasumber dari pemberontak syi’ah Hutsi mengatakan bahwa pasukannya menghentikan laju konvoi bersenjata Saleh dengan roket pelontar granat dan menembak mati Saleh di luar Sana’a.

Dalam pidatonya di televisi, Senin (4/12), Abdul Malik al-Hutsi, pemimpin Hutsi, memberikan selamat kepada warga Yaman atas apa yang ia gambarkan sebagai kemenangan melawan “konspirasi pengkhianatan” yang direkayasa oleh kelompok negara-negara Teluk. Namun, ia tidak menyinggung kematian Saleh.

Pejabat GPC mengatakan, Saleh tewas di luar Sana’a dalam serangan RPG dan senapan terhadap konvoi bersenjatanya yang juga mengikutsertakan asisten sekretaris jenderal GPC, Yasser al-Awadi.

Kematiannya dikonfirmasi oleh Yahya Mohammed Abdullah Saleh, keponakan Saleh dan mantan kepala pasukan keamanan Yaman, yang mengelukannya sebagai seorang martir pada Facebook.

Warga Sana’a melaporkan bahwa situasi di Kota sudah tenang. Sebagian besar orang masih berada di dalam rumah, jalanan sepi. Masyarakat gelisah karena syi’ah Hutsi memaksakan kendali penuh.

Juru bicara Hutsi, Mohammed Abdul Salam, mengklaim keuntungan yang signifikan dalam perang, Senin (4/12).

Kanal TV Hutsi, al-Masirah, dan para saksi mata mengatakan bahwa pemberontak Hutsi telah merebut rumah Jenderal Tareq, keponakan Saleh, di pusat kota.

“Kami hidup dalam teror. Tank-tank Hutsi menembaki lingkungan kami dan granat-granat dilemparkan,” kata Mohammed al-Madhaji, yang tinggal di suatu distrik garis depan peperangan.

Saleh menjadi presiden Yaman Utara pada 1978. Ketika bergabung dengan Yaman Selatan pada 1990, ia menjadi presiden republik baru itu.

Pemberontak syi’ah zaydiyyah Hutsi memerangi pemerintah rezim Saleh pada 2004–2010. Pemberontakannya pada 2011 memaksa Saleh menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Hadi.

Secara mengejutkan, para pendukung Saleh bersekutu dengan Hutsi pada 2014 ketika mereka merebut Sana’a di tengah meluasnya kekecewaan atas transisi politik dan Hadi gagal mengatasi korupsi, pengangguran, dan kerawanan pangan yang melanda Yaman.

Pada awal 2015, persekutuan baru itu menggulingkan Hadi, memaksa sang presiden melarikan diri ke Kota Aden, lalu ke Arab Saudi. Koalisi pimpinan Saudi mulai melancarkan kampanye militer memerangi Hutsi untuk memulihkan pemerintahan Hadi.

Sejak perang itu, lebih dari 8.670 orang tewas dan 49.960 yang lainnya terluka.

Akibat konflik dan blokade, 20,7 juta warga Yaman memerlukan bantuan kemanusiaan. Krisis itu merupakan kerawanan pangan terbesar dunia, dan menyebabkan wabah kolera yang menewaskan sekitar 2.211 orang sejak April 2017. (*/Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.