Sabtu, 28 November 2020

Demiz: Hoax Bukan Barang Baru, di Zaman Nabi sudah ada

Demiz: Hoax Bukan Barang Baru, di Zaman Nabi sudah ada

Foto: "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang yang fasik kepadamu membawa berita, maka tangguhkanlah (hingga kamu mengetahui kebenarannya). Itu ajaran Al Quran, Surat Al Hujarat ayat 6," kata Demiz. (Ariesmen/swamedium)

Bandung, Swamedium.com – Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (Demiz) mengatakan, dalam menyampaikan sebuah kebenaran dibutuhkan kecerdasan, oleh karenanya, wartawan diminta harus banyak belajar agar beritanya kredibel dan layak dibaca oleh masyarakat.

“Masyarakat sesungguhnya butuh informasi dari sumber yang kredibel, tapi tak didapatkannya, akibatnya mereka cari informasi sendiri, sayangnya informasi yang didapatkannya ternyata belum tentu kredibel juga,” kata Demiz dalam seminar kehumasan bertajuk Antisipasi Hoax pada Pilkada Serentak 2018 di Jawa Barat dan Uji Kompetensi Wartawan , Bandung, Selasa, (5/12).

Kondisi itulah, lanjut Demiz, yang akhirnya membuat jurnalisme warga mendapat tempat dan wadah di tengah masyarakat, dan semakin berkembang.

Berdasarkan hasil survei UI dan APJII, diketahui saat ini, persentase terbesar masyarakat Indonesia masih membaca berita lewat sharing. Yang mencari sendiri lewat situs pencarian berita hanya berada di posisi ke 4, atau sekitar 57 persen.

“Media sosial terkontaminasi hoax, bohong fitnah, bahasanya kasar, jorok, kadang jengah membacanya.
Masyarakat kita reaktif forward tanpa cek dan ricek,” ungkap Demiz.

Dijelaskan dia, berita hoax sesungguhnya bukan baru kali ini saja terjadi. Di zaman Nabi, hal tersebut, juga sudah terjadi.

Kisahnya, saat Al Walid diminta untuk mengambil zakat ke Bani Musthaliq. Hal itu, terang membuat Al Walid takut, sebab pada masa jahiliyyah terjadi permusuhan antara kabilah Bani Musthaliq dengan keluarga Al-Walid bin Uqbah.

Ketika sampai di perkampungan Bani Musthaliq, seorang warga kampung berteriak mengabarkan kedatangan Al-Walid. Spontan saja, penduduk kampung keluar sambil membawa harta yang akan diserahkan sebagai zakat.

Melihat hal tersebut, Al-Walid takut, disangkanya akan dibunuh, dan untuk menutupinya Al-Walid membuat laporan palsu kepada Rasulullah.

“Kabilah Bani Musthaliq telah murtad, tak mau bayar,” kata Al-Walid.

Untuk memastikan hal itu, Rasulullah mengutus Khalid bin Walid untuk menemui pemimpin kabilah Bani Musthaliq.

Khalid bin Walid tiba di perkampungan itu sebelum masuk waktu Maghrib. Ia sendiri mendengar suara Adzan berkumandang di perkampungan itu, saat masuk waktu Maghrib dan Isya.

Dari situ, Khalid bin Walid berkesimpulan bahwa Bani Musthaliq tidaklah murtad sebagaimana yang dikabarkan oleh Al-Walid. Dengan begitu, mereka terhindar dari fitnah yang disebarkan oleh Al-Walid bin Uqbah.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang yang fasik kepadamu membawa berita, maka tangguhkanlah (hingga kamu mengetahui kebenarannya). Itu ajaran Al Quran, Surat Al Hujarat ayat 6,” papar Demiz.

Jadi, pinta dia, tabayyun dalam menerima informasi itu penting.

“Jangan tergesa-gesa. Cek dan ricek dahulu kebenarannya. Sebab, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” katanya.

Selain itu, menyampaikan kebenaran juga butuh kecerdasan agar informasi yang disampaikan wartawan bisa diterima dengan baik oleh pembaca. (Ris)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.