Minggu, 29 November 2020

PM Libanon Batalkan Pengunduran Dirinya

PM Libanon Batalkan Pengunduran Dirinya

PM Saad Hariri berbincang dengan Presiden Michel Aoun saat rapat kabinet di Baabda, dekat Beirut, Libanon, pada Selasa, 5 Desember 2017. (Mohamed Azakir/Reuters)

Beirut, Swamedium.com — Perdana menteri Libanon, Saad al-Hariri, membatalkan pengunduran dirinya pada Selasa (5/12).

Pemerintah koalisinya, termasuk kelompok Hizbullah yang didukung oleh Iran, menegaskan kembali kebijakan negara, yaitu menghindari konflik di negara-negara Arab.

Sekutu Saad, Arab Saudi, menuding Hizbullah melancarkan perang di seluruh kawasan karena ia merupakan agen Iran.

Pejabat Libanon pun menuding Arab Saudi memaksa Saad mengundurkan diri. Saudi dan Saad membantah tudingan itu.

Presiden Michel Aoun, sekutu Hizbullah, menolak pengunduran diri Saad sebagai perdana menteri Libanon.

Kebijakan “disosiasi” Libanon dideklarasikan pada 2012 untuk menjaga negara dari konflik regional.

Mengabaikan kebijakan tersebut, Hizbullah malah sangat terlibat dalam konflik regional, seperti Perang Suriah, dengan mengirimkan ribuan pasukannya untuk membantu rezim syi’ah Suriah.

Dalam pertemuan pertama sejak pengunduran diri Saad sebagai perdana menteri, kabinet menegaskan kembali komitmennya terhadap kebijakan itu pada Selasa (5/12).

“Seluruh komponen politik (pemerintah) memutuskan untuk mendisosiasi diri mereka dari segala konflik, perselisihan, perang, atau urusan internal saudara negara-negara Arab demi melestarikan hubungan ekonomi dan politik Libanon,” tegas Saad, Selasa (5/12).

“Kabinet berterima kasih kepada pemimpinnya atas posisinya dan pencabutan pengunduran dirinya,” tambahnya membacakan pernyataan pemerintah tentang dirinya.

Dengan latar belakang perang sipil antara kelompok Muslim, syi’ah, kristian, dan durzi pada 1975–1990, Libanon memiliki sistem pemerintahan yang dirancang untuk berbagi kekuasaan di antara kelompok-kelompok sektarian.

Saad, seorang pengusaha kaya raya dengan saham di Arab Saudi dan berhubungan lama dengan Kerajaan, telah mencela republik syi’ah Iran saat pidato pengunduran dirinya.

Pada 2005, bapaknya yang pernah menjabat sebagai perdana menteri juga itu dibunuh. Oleh sebab itu, Saad mencemaskan diri dan keluarganya. (Pamungkas)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.